BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang Masalah
Malam Pengantin di Bukit Kera, karya Montinggo Busye adalah suatu drama yang berbentuk novelette. Karya ini ditulis pada tahun 1962. Dalam karya ini dikisahkan kejadian-kejadian yang terjadi seputar malam pengantin sepasang suami-istri, Bujang Tambun dan Maya, yang berbulan madu di bukit kera, di rumah Nenek Rabimalan.

B.      Tujuan dan Metode Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami dan mengemukakan hal-hal yang tersirat dalam naskah Malam Pengantin di Bukit Kera. Untuk memahami naskah tersebut, akan digunakan teori struktural sedangkan untuk mengemukakan hal-hal yang tersirat dalam naskah tersebut akan digunakan teori sosiologi sastra.

C.      Sistematika Penyajian
Makalah ini dibagi menjadi lima bab dan beberapa subbab. Bab satu adalah bab pendahuluan, yang berfungsi sebagai pengantar. Bab ini memiliki beberapa subbab, yaitu Latar Belakang Masalah, Tujuan dan Metode Penelitian, dan Sistematika Penyajian.
Bab dua berisi informasi tentang latar belakang teori struktural yang penulis gunakan untuk memahami naskah Malam Pengantin di Bukit Kera. Bab ini mengemukakan semua aspek yang akan diteliti dalam teori struktural.
Bab tiga berisi informasi tentang latar belakang teori sosiologi sastra yang penulis gunakan untuk mengemukakan hal-hal yang tersirat dalam naskah Malam Pengantin di Bukit Kera. Bab ini mengemukakan semua aspek yang akan diteliti dalam teori sosiologi sastra.

Bab empat adalah penerapan teori struktural dalam naskah Malam Pengantin di Bukit Kera. Bab ini dibagi menjadi beberapa subbab untuk memaparkan unsur dalam naskah seperti alur cerita, latar cerita, penokohan, dan tema.
Bab lima berisi hal-hal yang penulis kemukakan dari naskah Malam Pengantin di Bukit Kera. Bab ini mengungkapkan hal-hal yang tersirat dalam naskah Malam Pengantin di Bukit Kera berdasarkan teori sosiologi sastra.
Bab enam adalah bab terakhir. Bab ini berisi kesimpulan penulis yang penulis kemukakan setelah membahas naskah Malam Pengantin di Bukit kera.

BAB II
PENGERTIAN TEORI STRUKTURAL

A.     Pengertian Teori Struktural
Teori struktural adalah teori yang melihat suatu karya sastra dari struktur pembentuknya. Dalam hal ini, struktur pembentuk yang dimaksud adalah seperti alur, latar, tokoh, dan tema dari karya sastra itu sendiri.

B.      Alur
Alur cerita (Plot) adalah apa yang terjadi dalam cerita. Alur ini biasanya dibagi dalam lima bagian, yaitu perkenalan, penimbulan konflik, peningkatan konflik, klimaks, dan penyelesaian. Adapula karya non-konvensional yang menggunakan urutan yang bedamelalui flashback untuk mengembangkan cerita.

C.      Latar
Latar ada tiga jenis, yaitu latar tempat, latar waktu, dan latar sosial budaya. Latar tempat adalah ruang lingkup  di mana cerita terjadi, baik secara sempit (misalnya ruang tau) maupun luas (misalnya pulau jawa). Latar waktu adalah kurun waktu ketika cerita terjadi, baik secara sempit (misalnya jam enam pagi) maupun luas (misalnya tahun 1990). Latar sosial-budaya adalah keseluruhan adat dan kebudayaan di tempat dan waktu di mana cerita terjadi.

D.     Penokohan
Penokohan adalah perkembangan tokoh-tokoh dalam cerita. Ada tiga jenis tokoh, yaitu tokoh protagonis (pelaku/penggerak cerita), antagonis (penghambat protagonis), dan tritagonis (pembantu protagonis dan atau antagonis). Hubungan di antara tokoh dapat menyebabkan dan menimbulkan serta menggerakkan cerita (konflik).
 
E.      Tema
Tema adalah hal-hal dasar yang dibahas dalam naskah yang merupakan perjuangan universal. Ada tema klasik, seperti “yang baik mengalahkan yang jahat”, dan yang jarang digunakan “yang jahat mengalahkan yang baik.” 
Demikian paparan teori struktural secara singkat dijelaskan. Dengan menggunakan teori struktural tersebut penulis akan meneliti karya Malam Pengantin di Bukit Kera.

BAB III
PENGERTIAN TEORI SOSIOLOGI SASTRA

A.     Pengertian Sosiologi Sastra
Sosiologi sastra adalah ilmu sastra interdisipliner (ilmu sastra dengan ilmu sosiologi) yang muncul sebagai tanggapan atas kekurangan teori strukturalisme. Sosiologi sastra berusaha memahami karya sastra dalam konteks kebudayaannya. Karya sastra merupakan suatu simbol yang mempunyai arti apabila dijelaskan darimana asalnya dan apa manfaatnya.
Dalam penerapannya, teori ini dinyatakan lebih mudah dipergunakan untuk karya sastra dalam bentuk prosa, khususnya novel. Hal tersebut disebabkan karena novel menampilkan unsur-unsur cerita paling lengkap dan bahasa yang dipergunakan cenderung bahasa sehari-hari sehingga mudah dipahami.
Sebagai ilmu interdisiplin antara ilmu sastra dan sosiologi, sosiologi sastra juga menerapkan berbagai aspek kebudayaan, di antara lain sejarah, filsafat, agama, ekonomi, dan politik. Namun, prioritas dalam penelitian sosiologi sastra adalah karya sastra sendiri, dengan ilmu-ilmu lain sebagai ilmu pembantu
Ada dua macam model penelitian karya sastra yang dapat digunakan seorang peneliti, sebagai berikut: 
1.  Menganalisis masalah-masalah sosial yang terkandung di dalam karya sastra itu sendiri, kemudian menghubungkannya dengan kenyataan yang pernah terjadi.
 2. Sama dengan di atas, tetapi dengan cara menemukan hubungan antarstruktur, bukan aspek-aspek tertentu.
BAB IV
KAJIAN STRUKTURAL
A.     Alur
Malam Pengantin di Bukit Kera manggunakan alur lurus. Pada bagian awal naskah (hlm. 1-5) pembaca diperkenalkan pada tokoh (Rabimalan, Bujang Tambun, Maya) dan keadaan tokoh (Rabimalan dikatakan sebagai wanita tua yang gila) serta lingkungan tempat cerita itu terjadi (Bukit Kera).
Pada halaman tiga dan empat konflik mulai dimunculkan. Konflik tersebut ditunjukan pada bagian dimana nenek si Bujang Tambun (Rabimalan) dinyatakan sudah gila (hlm. 3). Adapula konflik kecil (sekunder) yang dimunculkan, yaitu perbedaan pendapat antara Bujang dan Maya (hlm. 4).
Peningkatan konflik terjadi pada halaman 4 sampai halaman 32. Hal itu digambarkan melalui pertengkaran antara Bujang Tambun dan Maya yang menjadi semakin heboh sehingga mereka tak saling bicara. Sementara itu, alasan mengapa Rabimalan mulai menjadi gila juga dikemukakan (suaminya dibunuh oleh teman judinya yang bernama Masroi), hal tersebut membuat Rabimalan berpikir untuk balas dendam.
Pada halaman 32 klimaks terjadi, Rabimalan menembak Masroi. “…terdengar suara letusan senapan sampai dua kali..., …aku telah menuntut bela atas kematianmu… …, …Bujang Tambun! Kau angkat ke sini mayat jahanam itu!”
Pada bab 35 dan 36 penyelasaian masalah mulai terlihat. Di sini Bujang Tambun dan Maya dapat menyelesaikan masalah mereka dan akhirnya sadar bahwa Rabimalan telah terbuai karena dendamnya kepada Masroi.
B.      Latar
Secara luas latar tempat dimana cerita terjadi adalah di Bukit Kera, suatu desa yang terkenal karena banyak keranya (hlm. 1). Secara sempit, drama ini terjadi di ruang tamu rumah nenek Rabimalan (hlm. 4).
Latar waktu secara luas tidak digambarkan dalam cerita ini, dengan kata lain bisa diduga cerita ini terjadi secara kontemporer dengan waktu penulisan naskah drama (1962). Latar waktu secara sempitnya cukup jelas dalam naskah ini, yaitu pada malam kelima, malam pengantin Bujang Tambun dan Maya (hlm.4).
Latar sosial-budaya adalah budaya di desa Bukit Kera. Sosial-budaya yang ada apabila dilihat dari watak tokoh-tokoh yang berasal dari daerah Bukit Kera (Rabimalan, Bujang Tambun, Raja Dukungan Tambun, dan Masroi), memliki budaya yang keras dan kasar (hlm. 35).
C.      Penokohan
Ø    Rabimalan
Rabimalan adalah mantan istri Raja Dukungan Tambun dan merupakan nenek dari Bujang Tambun. Dia tinggal dan berasal dari Bukit Kera. Secara fisik dia adalah wanita yang sudah tua tetapi mempunyai gigi yang masih utuh dan putih sekali (hlm. 6). Tenaganya tidak kurang ketika diperlukan; walau dia pergi dengan langkah tua , dia masih cukup kokoh untuk membuat suara tapakan dengan bunyi dari terompahnya (hlm. 7).
Batin Rabimalan sangat rumit untuk dipahami. Di satu sisi, Rabimalan berperilaku aneh sehingga disebut gila oleh tetangga-tetangga, dia berjudi, menembak-nembak di malam hari (hlm. 8-9).
Di sisi lain, Rabimalan memiliki kepercayaan tersendiri serta hati yang tulus. Hal tersebut dapat kita lihat ketika ia bertanya pada Maya, apakah Maya pandai membaca kalimat syahadat. Selain itu ia juga berusaha membuat Maya merasa tenang dan nyaman di rumah. Dia juga sangat sayang dan cinta pada mantan suaminya (Raja Dukungan Tambun).
Ø    Bujang Tambun
Bujang Tambun adalah suami Maya dan merupakan cucu dari Rabimalan. Secara fisik dia mirip dengan Raja Dukungan Tambun, kakeknya.
Bujang Tambun sangat mementingkan nama baik keluarganya dan setiap kata yang dianggap tidak baik tentang keluarganya ditentangnya dengan keras (hlm. 14). Dia juga kasar dengan istrinya dan dari awal hubungan telah berkali-kali berdusta pada istrinya (hlm. 15). Namun, pada akhirnya dia mengakui bersalah dan berusaha untuk memperbaiki hubungannya dengan Maya, istrinya (hlm. 16).
Ø    Maya
Maya adalah istri Bujang Tambun. Secara fisik tidak dijelaskan. Dari kepribadiannya, Maya adalah seorang gadis kota yang berani menentang suaminya ketika dia merasa kalau dirinya benar (hlm. 17). Namun, kadang-kadang dia terlihat kekanak-kanakan.
Ø    Raja Dukungan Tambun
Raja Dukungan Tambun adalah mantan suami Rabimalan dan merupakan kakek dari Bujang Tambun. Dia seorang penjudi yang amat dicintai Rabimalan tetapi akhirnya lebih memilih berjudi daripada bersama istrinya. Dalam cerita ini dia sudah meninggal sejak awal cerita, menurut Rabimalan diracuni Masroi (hlm. 19).
Ø    Masroi
Masroi adalah teman berjudi Raja Dukungan Tambun. Dia dituduh membunuh Raja Dukungan Tambun. Pada akhirnya dia mati karena dibunuh oleh Rabimalan (hlm. 30).
D.     Tema
Menurut penulis dalam naskah drama ini ada tiga tema yang terkandung, yaitu balas dendam, kesetiaan, dan mengatasi perbedaan. Balas dendam tergambar dari rencana Rabimalan untuk membunuh Masroi, dan ditampilkan pada bagian akhir cerita.
Kesetiaan, terwujud pada tokoh Rabimalan, dia tetap terbayang dan mencintai Raja Dukungan Tambun walaupun Raja Dukungan Tambun telah meninggal. Rabimalan bahkan berbuat nekad dengan membunuh Masroi karena cintanya pada Raja Dukungan Tambun. Tema terakhir yaitu membatasi perbedaan. Bujang Tambun dan Maya adalah contoh paling jelas. Pada awal cerita mereka berdua memiliki sudut pandang yang berbeda dan membuat keduanya sering bertengkar. Namun, setelah kematian Masroi mereka dapat saling memahami dan mengerti satu sama lainnya.

BAB V
KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA

Dengan menggunakan teori sosiologi sastra penulis mencoba untuk menjelaskan hal-hal yang tersirat dalam naskah Malam Pengantin di Bukit Kera ini. Pertama, menganalisis masalah-masalah sosial yang terkandung di dalam karya sastra itu sendiri, kemudian menghubungkannya dengan kenyataan yang pernah terjadi.
Masalah sosial yang terkandung dalam naskah tersebut menurut penulis salah satunya adalah ketika Rabimalan dikatakan gila oleh para penduduk setempat (Masroi). Masalah seperti ini sering terjadi di dunia nyata dimana seseorang bisa memfitnah orang lain karena sebab tertentu seperti iri hati, sirik, dan masih banyak motif lainnya. 
Sama dengan di atas, tetapi dengan cara menemukan hubungan antarstruktur, bukan aspek-aspek tertentu. Struktur yang penulis hubungkan disini adalah dalam hal keterkaitan antara Rabimalan dengan Masroi, Rabimalan membunuh Masroi karena dia juga terlibat atau terkait dengan masalah dendam (penyebab perceraian Rabimalan dan kematian Raja Dukungan Tambun). Kemudian ketika Bujang Tambun membanggakan almarhum kakeknya, hal ini wajar karena Rabimalan mengatakan bahwa Bujang Tambun sangat mirip dengan Raja Dukungan Tambun. Sedangkan sifat Maya yang terkadang tidak jelas, berhubungan dengan latar belakangnya yang memang merupakan gabungan dari dua kebudayaan.

 
BAB VI
KESIMPULAN 

Naskah Malam Pengantin di Bukit Kera ini cukup pendek namun mempunyai nilai yang sangat besar. Temanya bersifat universal dan mencakup kehidupan yang ada serta relevan dengan keadaan saat ini. Dengan demikian kita dapat memetik nilai-nilai positif dari naskah ini, seperti nilai kesetiaan.


0 Comments:

Posting Komentar



Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda