Alexandria Nicole

“Alexandria Nicole menambahkan anda sebagai temannya Konfirmasi Abaikan”
Kalimat itu muncul di beranda facebook ku. Sejenak aku termenung karena nama itu hampir sama dengan namaku, Alexandria Colin. Tanpa pikir panjang ku arahkan cursor ku dan ku klik kata konfirmasi. Saat itu juga facebook ku dengan facebook-nya terhubung dan kami pun berteman lewat facebook.
“Thanks yah udah confirm aku”, tulisnya di dindingku.
“U re welcome”, balasku.
Dari situlah semuanya berawal, persahabatan yang kemudian menjadi persaudaraan. Setiap kali aku membuka facebook, profil pertama yang aku lihat adalah profilnya, Alexandria Nicole. Aku selalu ingin tahu apa saja aktivitasnya di dunia maya. Begitulah hari-hariku.
Apabila aku tidak melihat aktivitasnya di dunia maya, timbul rasa kesepian dalam hatiku. Apabila aku melihat statusnya seperti orang patah semangat, aku orang pertama yang koment dan memberikan semangat. Apabila aku melihat statusnya lagi sedih, aku orang pertama yang koment dan menghiburnya. Apabila aku melihat statusnya lagi bahagia, aku orang pertama yang koment dan memberikan selamat. Bahkan tidak jarang aku selalu ngelike statusnya yang menurutku menarik. Begitu juga dengannya.
Semakin hari persahabatan kami semakin erat. Kami bertukaran nomor hape, smsan, chatting, dan tidak jarang kami teleponan. Kami memang belum pernah bertemu sekalipun tetapi diantara kami tumbuh rasa yang sangat erat. Sampai pada akhirnya dia mengangkat aku sebagai kakaknya.
“Kak, aku anak tunggal, aku pengen punya kakak, Kakak mau nggak jadi kakak aku?”, tanyanya kepadaku.
Tanpa pikir panjang aku pun  menjawab,”Iya, kakak mau dek”.
Mulai saat itu aku dengannya semakin akrab. Bahkan, tanpa sungkan ia memperkenalkan aku dengan kedua orang tuanya.
“Pah, Mah, sekarang aku punya kakak, dia kuliah di Jogja, namanya Alexandria Colin”, begitu katanya kepada kedua orang tuanya.
Hari terus berlalu, cerita demi cerita terjadi di antara kami berdua. Jarak yang jauh antara aku dan dia tak menjadi masalah, aku di Jogja dia di Kaltim tetapi komunikasi kami selalu lancar.
Facebook menjadi saksi biksu dari semuanya. Facebook mencatat apa yang aku dan dia tulis baik di dinding maupun di inbox. Hal yang bersifat sangat penting kami tulis di inbox dan hal yang bersifat biasa saja seperti menanyakan kabar biasa kami tulis di dinding.
Perhatianku terhadapnya dan perhatiannya terhadapku melebihi perhatian saudara kandung. Saat pagi menjelang di hape ku selalu muncul sms darinya yang selalu mengingatkanku untuk bangun, mandi, dan jangan lupa sarapan sebelum berangkat ke kampus. Begitupun denganku, aku selalu mengingatkannya agar jangan lupa makan karena aku tahu dia punya maag.
“Kak, Kakak mau Adek kirimi amplang nggak?” Tanyanya kepadaku saat kami berteleponan.
“Terserah Adek aja.” Jawabku.
Tiga hari setelah kami teleponan itu, Bapak kost memanggilku dan memberikan sebuah paket kepadaku. Ternyata itu adalah amplang dari Nicole. Akupun langsung mengambil hapeku dan menghubunginya untuk mengucapkan terima kasih.
Beberapa kali aku berusaha meneleponnya tetapi tidak diangkat juga. Aku kemudian mengirimkan sms kepadanya tetapi tidak ada balasan. Aku membuka facebook dari opera mini di hapeku kemudian mencari profil Alexandria Nicole. Aku perhatikan ternyata setelah kami teleponan tiga hari yang lalu Nicole tidak pernah mengupdate statusnya. Dan pesan dinding dari para sahabatnya tidak ada yang dibalasanya. Tidak biasanya Nicole seperti ini.
Rasa penasaran muncul dalam hatiku. Ku coba lagi untuk meneleponnya tetapi kali ini nomornya mati total. Aku kirimi sms untuk kesekian kalinya kenomornya. Tidak hanya sampai disitu aku juga menghubunginya dari facebook, ku tulis di dinding dan ku kirim pesan ke inboxnya.
Setiap saat aku menanti hapeku berdering. Aku berharap ada Nicole menghubungiku. Aku berharap ada sms dari Nicole.
Suatu ketika aku lagi makan dan hapeku berdering, ku tinggalkan makananku dan berlari untuk mencuci tangan dan mengambil hapeku. Rasa kecewa menyelimutiku ketika aku melihat sms di hapeku yang ternyata hanya dari operator. Kemudian lemparkan hapeku ke tempat tidur. Kubereskan nasi sisa makanku. Aku tak selera lagi menlajutkan makanku. Sudah hampir seminggu aku tak mendengar kabar dari Alexandria Nicole, sudah hampir seminggu aku loss contact dengannya.
Rasa hatiku sungguh tidak menentu, aku tidak ada semangat untuk melakukan aktivitasku. Tidak ada yang sms aku, mengingatkanku untuk makan, mandi, dan lain-lain.
Malam semakin larut tetapi mataku tidak sedikitpun menunjukan tanda-tanda akan terlelap. Berulangkali aku berusaha memejamkan mataku tetapi selalu gagal. Aku bangun dari tempat tidurku, kunyalakan komputerku dan ku konek-kan ke internet. Ku buka firefox di komputerku kemudian aku membuka facebook.
Mataku terbelalak ketika aku membaca sebuah status yang berbunyi sebagai berikut:
“Kalau aku masih dikasih kesempatan untuk melihat matahari esok, kalau aku masih bisa bernafas, dan kalau aku masih hidup, aku ingin masih bisa menulis di facebook ini, aku ingin menyapa kak Colin, aku ingin…”
Tulisan itu status Nicole. Ku tulis koment ku di bawah statusnya, sebagai berikut:
“Adek kenapa sms kakak gak pernah dibalas, telepon kakak gak diangkat, nomor adek juga gak pernah aktif, adek kenapa buat status kayak gini…?”
Tak lama kemudian muncul balasannya.
“Kak Adek minta maaf, kakak jangan marah yah. Subuh nanti adek mau dioperasi, doakan Adek yah kak supaya adek masih bisa melihat hari esok, supaya adek masih bisa bercanda ma kakak lagi, supaya adek masih bisa update status lagi di facebook ini. Tapi kalau adek mati, kakak jangan pernah lupain adek, kakak juga jangan biarkan facebook adek mati, kakak harus updatekan status adek setiap saat, kalau kakak kangen sama adek kakak boleh buka facebook adek, luv u kak Colin.”
“Adek jangan gitu.” Balasku.
Tidak ada balasan untuk komentku. Tidak ada tanda-tanda kehidupan lagi di facebook Alexandria Nicole. Tidak ada lagi semuanya. Sepi.
Tanpa terasa mataku meneteskan air mata. Mataku berkaca-kaca. Perlahan penglihatanku mulai kabur. Dadaku mulai terasa sesak. Perasaan sedih menyelimuti diriku. Pikiranku melayang jauh meninggalkan ragaku. Semuanya gelap dan hilang.
“Kriiiiing… kriiiiing… kriiiiing…” Suara hapeku berbunyi.
Aku terbangun dan melihat hapeku, ternyata itu nomor Nicole. Hatiku sangat gembira, ku angkat telepon darinya.
“Ini Colin ya, saya ibunya Nicole. Tadi malam Nicole bilang kalau dia ingin banget nelpon nak Colin tetapi dokter melarangnya karena dia akan di operasi subuh tadi. Dia berpesan ke ibu suruh memberitahukan nak Colin kalau dia sayang banget sama nak Colin, dia ingin nak Colin terus mengingatnya!” Kata ibunya Nicole.
“Apa yang terjadi dengan Nicole Bu, dia di mana sekarang, gimana keadaannya?” Tanyaku bertubi-tubi.
Tidak ada jawaban dari ibunya. Tapi aku tahu kalau ibunya sedang menangis. Dadaku seketika itu juga sesak dan air mataku tak dapat ku bendung lagi.
“Nicole udah gada lagi, dia udah pergi ke tempat yang jauh nak!” Jawab Ibu dengan tangisnya.
Hapeku terjatuh. Mataku menatap layar komputer yang ada di hadapanku. Ternyata komputerku semalam tidak mati dan masih tetap online. Di sana tampak profil facebook Alexandria Nicole, sahabat sekaligus saudaraku. Senyumnya begitu indah menghiasi halaman profil facebooknya. Tetapi senyuman itu hanya tinggal senyuman. Tidak akan ada lagi status, tidak akan ada lagi koment, dan tidak akan ada lagi chatting. Yang tersisa hanya sebuah pesan darinya.
“Kak kalau besok aku mati, updatekan statusku yah, katakan pada semua kalau aku bahagia punya kakak yang perhatian dan sayang sama aku, selamat tinggal dunia, selamat tinggal kakakku tersayang!”'

1 Comment:

  1. Unknown said...
    mengharukan!!!

Posting Komentar



Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda