MITOS SEPUTAR POHON BERINGIN KEMBAR DI ALUN-ALUN SELATAN KERATON YOGYAKARTA
Posted by Unknown at 03.09BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Alun - alun Selatan adalah salah satu obyek wisata yang berada di Daerah Istimewa Yogyakarta. Obyek wisata ini sangat terkenal dengan suasana malam harinya. Ada banyak fenomena yang terjadi di Alun - alun Selatan ini. Salah satunya adalah muncul mitos seputar Pohon Beringin Kembar. Konon, menurut kepercayaan, siapa saja yang bisa berjalan dengan mata tertutup melewati celah diantara Pohon Beringin tersebut, harapannya bisa terkabul.
Hal tersebut di atas membuat penulis tertarik untuk mengangkat topik Mitos Seputar Pohon Beringin Kembar di Alun-alun Selatan Keraton Yogyakarta dan membahasnya lebih lanjut. Selain itu, banyaknya pandangan dan muculnya beragam cerita di masyarakat seputar Pohon Beringin Kembar itu sendiri juga menjadi daya tarik tersendiri dalam pemilihan topik ini.
B. Sistematika Penyajian
Makalah ini terdiri dari enam bab dan beberapa subbab. Bab pertama dari makalah ini berisi tentang latar belakang masalah yang mejelaskan mengapa penulis memilih topik Mitos Seputar Pohon Beringin Kembar di Alun-alun Selatan Keraton Yogyakarta untuk dibahas.
Bab kedua adalah deskripsi objek. Dalam bab ini penulis menggambarkan secara singkat keadaan dan bentuk dari Pohon Beringin Kembar itu sendiri, termasuk lokasi, dan letaknya.
Bab tiga berisi mitos tentang Pohon Beringin Kembar. Bab ini memuat hasil wawancara penulis terhadap beberapa sumber dan pandangan mereka seputar Pohon Beringin Kembar.
Bab empat berisi interpretasi penulis. Interpretasi tersebut berdasarkan hasil wawancara yang dimuat pada bab sebelumnya (Bab III).
Bab lima memuat hubungan antar mitos. Dalam hal ini penulis menggunakan interpretasi penulis sendiri untuk menemukan hubungan tersebut.
Bab terakhir adalah bab enam. Bab ini berisi kesimpulan penulis terhadap hasil penelitian penulis terhadap Mitos Seputar Pohon Beringin Kembar di Alun-alun Selatan Keraton Yogyakarta.
BAB II
POHON BERINGIN KEMBAR
A. Deskripsi Objek
Pohon Beringin Kembar yang menjadi objek penelitian penulis berada tepat di tengah sebuah lapangan, di Alun-alun Selatan Keraton Yogyakarta. Pohon ini konon telah berusia ratusan tahun, tidak ada data yang secara jelas menentukan kapan pohon itu tumbuh.
Pohon Beringin Kembar ini berdiri kokoh dengan dipagari sebuah tembok dari beton. Jarak pohon yang satu dengan pohon yang satunya lagi sekitar sepuluh meter.
Pohon Beringin Kembar ini tumbuh layaknya Pohon Beringin pada umumnya, memiliki daun yang lebat dan akar yang bergantungan. Keadaan udara di bawah pohon itu sendiri sangat sejuk, terutama pada malam hari.
Pada waktu tertentu terkadang tercium aroma kemenyan di sekitar Pohon Beringin Kembar ini. Hal tersebut terjadi lantaran pada waktu tertentu diadakan ritual tertentu pula di Pohon Beringin Kembar tersebut.
Demikian gambaran singkat Pohon Beringin Kembar yang berada tepat di Alun - alun Selatan Keraton Yogyakarta ini. Keunikan serta mitos menjadi daya tarik tersendiri dari Beringin Kembar tersebut.BAB III
MITOS SEPUTAR POHON BERINGIN KEMBAR
A. Mitos I
Menurut Pak Jo, salah satu pedagang yang berjualan nasi kucing di angkringan di sekitar pohon Beringin, ketika sultan Hamengkubuwono I bertahta, ada sebuah cerita seputar perkawinan. Putri Sang Sultan akan dipinang oleh seorang lelaki namun sayangnya Sang Putri tidak menyukainya. Untuk menolak secara halus sang Putri meminta syarat: Jika si Pria ingin menikahinya, maka lelaki tersebut harus bisa berjalan dengan mata ditutup (tertutup) dari Pendopo yang ada di sebelah utara Alun-alun Kidul melewati dua Beringin kembar ditengah alun alun dan finish di pendopo yang ada di sebelah selatan alun alun kidul tersebut. Ternyata siasat sang putri ini berhasil, si lelaki gagal menjalankan misinya.
Kemudian sang Sultan mengatakan bahwa yang bisa melewati syarat sang putri itu, hanyalah pemuda yang hatinya benar-benar bersih dan tulus. Sampai pada akhirnya datang seorang pemuda dari Siliwangi (anak dari Prabu Siliwangi) berhasil melewati rintangan yang disyaratkan oleh sang putri dan sang putri akhirnya dipersunting oleh pemuda tersebut.
B. Mitos II
Selain cerita tersebut di atas, ada cerita versi lain dimana menurut seorang bapak yang bekerja sebagai tukang becak di Malioboro, Pak Pur. Menurutnya, Pohon Beringin Kembar yang terdapat di Alun-alun Selatan Kota Yogyakarta merupakan sebuah gerbang menuju laut selatan. Konon, antara Laut Selatan, Keraton, dan Merapi memiliki kaitan karena apabila ditarik garis lurus, ketiganya berada pada satu garis lurus, misalnya kita menarik garis dari Utara kita akan menemukan urutan sebagai berikut, yaitu Merapi kemudian Keraton Yogyakarta, dan berakhir di Parangtritis atau yang dikenal dengan Laut Selatan.
Masih seputar Pohon Beringin Kembar, menurutnya hanya orang tertentu saja, biasanya yang memiliki kesaktian, yang dapat melihat dan merasakan hal-hal mistis di sekitar pohon keramat tersebut. Pada zaman kepemimpinan Sultan Hamengkubuwono VI, pohon beringin ini adalah semacam gerbang dan jalan pintas menuju Laut Selatan.
C. Mitos III
Cerita lain yang beredar di sekitar masyarakat adalah hanya orang yang bersih hati dan pikirannya sajalah yang bisa melewati celah diantara dua pohon beringin tersebut dengan mata tertutup. Selain itu, permohonan yang diucapkannya sebelum melewati pohon beringin itu akan terkabul suatu saat nanti, demikian menurut Dewi dan Nala, pengunjung yang mencoba melewati celah di antara dua pohon beringin tersebut namun enggan menyebutkan permohonannya.
Dari sisi lain, ada seorang pengunjung yang mengaku tidak begitu tahu seputar mitos yang ada tentang pohon beringin itu sendiri. Ia hanya datang dan bersenang-senang serta melihat dan menikmati pemandangan malam di sekitar pohon beringin kembar tersebut sambil berfoto-foto.
BAB IV
INTERPRETASI MITOS
A. Mitos I
Peristiwa seperti ini (putri dilamar lelaki dari luar kerajaan) sering terjadi pada zaman dahulu. Mengingat putri kerajaan pasti merupakan wanita yang cantik dan menjadi rebutan para lelaki pada zaman itu. Jadi tidak menutup kemungkinan apabila ada pria yang mau meminang atau malamar Sang Putri.
Lelaki yang melamar pun tidak mungkin sembarangan lelaki, mereka pasti mempunyai sesuatu, misalnya kekayaan atau jabatan atau mungkin juga kerajaan. Oleh karena itu, tidak mungkin Sang Putri menolak mentah-mentah. Dengan mengajukan syarat-syarat tertentu sudah menjadi cara untuk menolak lelaki tersebut. Ditambah lagi dengan titah Sultan kalau hanya orang yang berhati bersih saja yang mampu melewati tantangan tersebut. Sampai pada akhirnya datang seorang lelaki yang dia cintai dan berhasil menaklukkan tantangannya. Hal ini menjadi semacam bentuk kepercayaan yang muncul sampai saat ini.
B. Mitos II
Apabila dilihat dari peta, secara geografis memang keadaan tiga lokasi ini, Merapi, Keraton, dan Laut Selatan berada dalam satu garis lurus. Jadi hal tersebut tidak dapat dipungkiri. Namun, apabila ditelaah secara nalar mungkin saja hal tersebut bersifat kebetulan semata.
Masalah kesaktian juga tidak dapat dipungkiri karena memang ada hal-hal di luar nalar yang sering terjadi di seputaran Pohon Beringin Kembar ini. Apabila dikatakan bahwa Pohon tersebut merupakan suatu Gerbang menuju Laut Selatan bisa saja terjadi pada mereka yang memiliki kesaktian. Jadi, segala kemungkinan itu selalu ada tergantung bagaimana kita menghadapinya.
C. Mitos III
Pada dasarnya hati yang bersih dan pikiran yang bersih memang mampu membuat konsentrasi seseorang lebih tinggi. Dengan konsentrasi yang tinggi membantu seseorang untuk dengan mudah menentukan arah langkahnya. Hal ini yang membuat seseorang mampu melewati Pohon Beringin tersebut.
Jadi, pada dasarnya hanya konsentrasi yang membuat langkah seseorang menjadi lebih fokus untuk melewati Pohon Beringin tersebut. Dalam hal ini perasaanlah yang menuntun langkah orang yang akan melewati Pohon Beringin dengan mata tertutup.BAB V
HUBUNGAN ANTAR MITOS
Munculnya beragam cerita atau mitos seputar Pohon Beringin membuat penulis merasa perlu untuk melihat dan mengetahui hubungan antar mitos itu sendiri. Hubungan itu dapat ditemukan dengan mencari kata kunci dari setiap data yang penulis peroleh dari hasil wawancara terhadap beberapa narasumber.
Dari data yang diperoleh ada sedikit kemiripan pendapat dan cerita yang diketahui dari Pak Jo, Pak Pur, dan Wiwie serta Nala. Kata kunci yang mencerminkan kemiripan itu adalah “hanya orang tertentu”. Menurut Pak Jo “hanya orang tertentu” yang hatinya bersih yang dapat melewati celah pohon beringin tersebut. Menurut Pak Pur “hanya orang tertentu” yang memiliki kesaktian yang dapat merasakan kekuatan di sekitar pohon tersebut. Menurut Wiwie dan Nala “hanya orang tertentu” yang bersih hati dan pikiran yang bisa melewati pohon beringin tersebut dengan mata tertutup.
Hubungan tersebut tampak dari keberagaman cerita yang muncul disekitar masyarakat. Hubungan tersebutlah yang membuat Pohon Beringin Kembar menjadi semakin menarik untuk diteliti. Selain itu, keberagaman mitos atau cerita ternyata ada nilai keterkaitan satu sama lain di dalamnya.
BAB VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa dari suatu tempat ternyata dapat muncul beragam cerita dan pandangan serta mitos. Mitos yang muncul walaupun berbeda dan beragam ternyata memiliki keterkaitan dan hubungan satu sama lainnya. Keragaman cerita atau mitos yang muncul seputar pohon beringin ini membuatnya terasa semakin menarik untuk di teliti.
BAB II
POHON BERINGIN KEMBAR
A. Deskripsi Objek
Pohon Beringin Kembar yang menjadi objek penelitian penulis berada tepat di tengah sebuah lapangan, di Alun-alun Selatan Keraton Yogyakarta. Pohon ini konon telah berusia ratusan tahun, tidak ada data yang secara jelas menentukan kapan pohon itu tumbuh.
Pohon Beringin Kembar ini berdiri kokoh dengan dipagari sebuah tembok dari beton. Jarak pohon yang satu dengan pohon yang satunya lagi sekitar sepuluh meter.
Pohon Beringin Kembar ini tumbuh layaknya Pohon Beringin pada umumnya, memiliki daun yang lebat dan akar yang bergantungan. Keadaan udara di bawah pohon itu sendiri sangat sejuk, terutama pada malam hari.
Pada waktu tertentu terkadang tercium aroma kemenyan di sekitar Pohon Beringin Kembar ini. Hal tersebut terjadi lantaran pada waktu tertentu diadakan ritual tertentu pula di Pohon Beringin Kembar tersebut.
Demikian gambaran singkat Pohon Beringin Kembar yang berada tepat di Alun - alun Selatan Keraton Yogyakarta ini. Keunikan serta mitos menjadi daya tarik tersendiri dari Beringin Kembar tersebut.
BAB III
MITOS SEPUTAR POHON BERINGIN KEMBAR
A. Mitos I
Menurut Pak Jo, salah satu pedagang yang berjualan nasi kucing di angkringan di sekitar pohon Beringin, ketika sultan Hamengkubuwono I bertahta, ada sebuah cerita seputar perkawinan. Putri Sang Sultan akan dipinang oleh seorang lelaki namun sayangnya Sang Putri tidak menyukainya. Untuk menolak secara halus sang Putri meminta syarat: Jika si Pria ingin menikahinya, maka lelaki tersebut harus bisa berjalan dengan mata ditutup (tertutup) dari Pendopo yang ada di sebelah utara Alun-alun Kidul melewati dua Beringin kembar ditengah alun alun dan finish di pendopo yang ada di sebelah selatan alun alun kidul tersebut. Ternyata siasat sang putri ini berhasil, si lelaki gagal menjalankan misinya.
Kemudian sang Sultan mengatakan bahwa yang bisa melewati syarat sang putri itu, hanyalah pemuda yang hatinya benar-benar bersih dan tulus. Sampai pada akhirnya datang seorang pemuda dari Siliwangi (anak dari Prabu Siliwangi) berhasil melewati rintangan yang disyaratkan oleh sang putri dan sang putri akhirnya dipersunting oleh pemuda tersebut.
B. Mitos II
Selain cerita tersebut di atas, ada cerita versi lain dimana menurut seorang bapak yang bekerja sebagai tukang becak di Malioboro, Pak Pur. Menurutnya, Pohon Beringin Kembar yang terdapat di Alun-alun Selatan Kota Yogyakarta merupakan sebuah gerbang menuju laut selatan. Konon, antara Laut Selatan, Keraton, dan Merapi memiliki kaitan karena apabila ditarik garis lurus, ketiganya berada pada satu garis lurus, misalnya kita menarik garis dari Utara kita akan menemukan urutan sebagai berikut, yaitu Merapi kemudian Keraton Yogyakarta, dan berakhir di Parangtritis atau yang dikenal dengan Laut Selatan.
Masih seputar Pohon Beringin Kembar, menurutnya hanya orang tertentu saja, biasanya yang memiliki kesaktian, yang dapat melihat dan merasakan hal-hal mistis di sekitar pohon keramat tersebut. Pada zaman kepemimpinan Sultan Hamengkubuwono VI, pohon beringin ini adalah semacam gerbang dan jalan pintas menuju Laut Selatan.
C. Mitos III
Cerita lain yang beredar di sekitar masyarakat adalah hanya orang yang bersih hati dan pikirannya sajalah yang bisa melewati celah diantara dua pohon beringin tersebut dengan mata tertutup. Selain itu, permohonan yang diucapkannya sebelum melewati pohon beringin itu akan terkabul suatu saat nanti, demikian menurut Dewi dan Nala, pengunjung yang mencoba melewati celah di antara dua pohon beringin tersebut namun enggan menyebutkan permohonannya.
Dari sisi lain, ada seorang pengunjung yang mengaku tidak begitu tahu seputar mitos yang ada tentang pohon beringin itu sendiri. Ia hanya datang dan bersenang-senang serta melihat dan menikmati pemandangan malam di sekitar pohon beringin kembar tersebut sambil berfoto-foto.
BAB IV
INTERPRETASI MITOS
A. Mitos I
Peristiwa seperti ini (putri dilamar lelaki dari luar kerajaan) sering terjadi pada zaman dahulu. Mengingat putri kerajaan pasti merupakan wanita yang cantik dan menjadi rebutan para lelaki pada zaman itu. Jadi tidak menutup kemungkinan apabila ada pria yang mau meminang atau malamar Sang Putri.
Lelaki yang melamar pun tidak mungkin sembarangan lelaki, mereka pasti mempunyai sesuatu, misalnya kekayaan atau jabatan atau mungkin juga kerajaan. Oleh karena itu, tidak mungkin Sang Putri menolak mentah-mentah. Dengan mengajukan syarat-syarat tertentu sudah menjadi cara untuk menolak lelaki tersebut. Ditambah lagi dengan titah Sultan kalau hanya orang yang berhati bersih saja yang mampu melewati tantangan tersebut. Sampai pada akhirnya datang seorang lelaki yang dia cintai dan berhasil menaklukkan tantangannya. Hal ini menjadi semacam bentuk kepercayaan yang muncul sampai saat ini.
B. Mitos II
Apabila dilihat dari peta, secara geografis memang keadaan tiga lokasi ini, Merapi, Keraton, dan Laut Selatan berada dalam satu garis lurus. Jadi hal tersebut tidak dapat dipungkiri. Namun, apabila ditelaah secara nalar mungkin saja hal tersebut bersifat kebetulan semata.
Masalah kesaktian juga tidak dapat dipungkiri karena memang ada hal-hal di luar nalar yang sering terjadi di seputaran Pohon Beringin Kembar ini. Apabila dikatakan bahwa Pohon tersebut merupakan suatu Gerbang menuju Laut Selatan bisa saja terjadi pada mereka yang memiliki kesaktian. Jadi, segala kemungkinan itu selalu ada tergantung bagaimana kita menghadapinya.
C. Mitos III
Pada dasarnya hati yang bersih dan pikiran yang bersih memang mampu membuat konsentrasi seseorang lebih tinggi. Dengan konsentrasi yang tinggi membantu seseorang untuk dengan mudah menentukan arah langkahnya. Hal ini yang membuat seseorang mampu melewati Pohon Beringin tersebut.
Jadi, pada dasarnya hanya konsentrasi yang membuat langkah seseorang menjadi lebih fokus untuk melewati Pohon Beringin tersebut. Dalam hal ini perasaanlah yang menuntun langkah orang yang akan melewati Pohon Beringin dengan mata tertutup.
BAB V
HUBUNGAN ANTAR MITOS
Munculnya beragam cerita atau mitos seputar Pohon Beringin membuat penulis merasa perlu untuk melihat dan mengetahui hubungan antar mitos itu sendiri. Hubungan itu dapat ditemukan dengan mencari kata kunci dari setiap data yang penulis peroleh dari hasil wawancara terhadap beberapa narasumber.
Dari data yang diperoleh ada sedikit kemiripan pendapat dan cerita yang diketahui dari Pak Jo, Pak Pur, dan Wiwie serta Nala. Kata kunci yang mencerminkan kemiripan itu adalah “hanya orang tertentu”. Menurut Pak Jo “hanya orang tertentu” yang hatinya bersih yang dapat melewati celah pohon beringin tersebut. Menurut Pak Pur “hanya orang tertentu” yang memiliki kesaktian yang dapat merasakan kekuatan di sekitar pohon tersebut. Menurut Wiwie dan Nala “hanya orang tertentu” yang bersih hati dan pikiran yang bisa melewati pohon beringin tersebut dengan mata tertutup.
Hubungan tersebut tampak dari keberagaman cerita yang muncul disekitar masyarakat. Hubungan tersebutlah yang membuat Pohon Beringin Kembar menjadi semakin menarik untuk diteliti. Selain itu, keberagaman mitos atau cerita ternyata ada nilai keterkaitan satu sama lain di dalamnya.
BAB VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa dari suatu tempat ternyata dapat muncul beragam cerita dan pandangan serta mitos. Mitos yang muncul walaupun berbeda dan beragam ternyata memiliki keterkaitan dan hubungan satu sama lainnya. Keragaman cerita atau mitos yang muncul seputar pohon beringin ini membuatnya terasa semakin menarik untuk di teliti.Labels: Budaya tradisional
0 Comments:
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Subscribe to:
Posting Komentar (Atom)
Posting Komentar