IDE CERITA
Abe termenung di sebuah ruang, pikirannya terus melayang memikirkan keputusan yang baru saja ia ambil, memikirkan nasib yang baru saja ia alami. Ia diusir oleh majikannya. Seandainya saja ia terlahir dari keluarga yang kaya raya, keluarga yang jelas dan bukan anak yatim piatu pasti semuanya tidak akan seperti ini jadinya.
Tedi datang membuka pintu dan membawa dua bungkus makanan dan dua bungkus minuman. Kemudian Tedi menawarkan makanan itu kepada Abe mengingat Abe telah dua hari tidak makan. Abe hanya diam saja sambil terus merenung tanpa menyadari kedatangan Tedi sahabatnya.
Abe terkejut ketika tangan Tedi memegang pundaknya. Abe kemudian menatap sahabatnya dengan tersenyum pahit kemudian ia menatap keluar kamar dari sebuah jendela yang terdapat di kamar tersebut. Tedi kemudian membuka bungkus makanan yang dibawanya tadi, lalu menaruhnya di atas meja di hadapan Abe. Sekali lagi Tedi membujuk Abe agar makan walaupun hanya sedikit. Setelah sekian lama termenung akhirnya Abe menyantap makanan itu walaupun hanya beberapa suap saja.
Suasana ruangan yang hening itu tiba-tiba saja berubah ketika Abe berteriak sekuat tenaga sambil menghambur semua barang yang ada di atas meja termasuk sisa makanan yang tidak habis dimakannya. Tedi hanya terdiam melihat perbuatan sahabatnya itu, ia membujuknya agar sedikit tenang. Abe kemudian pergi ke kamar mandi, mencelupkan kepalanya ke dalam bak mandi lalu ia kembali berteriak sekuat tenaga. Setelah itu ia berjalan ke sisi ranjang lalu duduk di samping ranjang sambil bersandar di ranjang tersebut, kakinya sedikit ditekuk lalu kepalanya ia sandarkan pada kedua lututnya, ia menangis.
Tedi menghampiri sahabatnya itu dan mencoba menenangkannya lagi. Tedi bingung dengan masalah yang dihadapi sahabatnya itu. Disisi lain Tedi juga benci dengan sikap sahabatnya yang lari dari masalah itu. Ia menasihati sahabatnya dengan sangat hati-hati karena takut menyinggung perasaan sahabatnya itu. Ia tidak ingin sahabatnya itu menyerah begitu saja, ia ingin membantu sahabatnya itu tetapi ia tidak tahu harus bagaimana.
Di rumah sakit, Andini terbaring lemas, darahnya banyak hilang karena mencoba untuk bunuh diri dengan cara memotong nadinya. Ia masih belum sadarkan diri tetapi dalam tidurnya ia selalu menyebut nama Abe. Dokter yang merawat Andini menyarankan kepada pihak keluarga Andini untuk bisa membawa orang yang namanya Abe ke rumah sakit karena dengan begitu bisa membantu proses penyembuhan Andini.
Ibu Rita, orang tua Andini hanya menangis meratapi nasib anaknya. Sementara itu, Ayah Andini terlihat sangat geram dan marah ketika dokter itu menyebut nama Abe. “Supir sialan itu berani sekali membuat anak kita seperti ini”, gumam Ayah Andini.
Tidak lama kemudian ibu Rita memanggil suaminya, “Pah, anak kita pah, anak kita sudah sadar!”
Ayah Andini kemudian menghampiri anaknya yang mulai sadar lalu memegang tangan anaknya.
Andini meminta maaf kepada kedua orang tuanya karena perbuatan nekadnya ingin bunuh diri. Ia mengatakan kalau itu semua ia lakukan agar mendapat restu dari ayah dan ibunya atas hubungannya dengan Abe yang bekerja sebagai supir pribadi ayahnya.
Ayahnya jelas tidak setuju karena Andini adalah anak semata wayangnya, anak dari keluarga yang terpandang. Sementara Abe hanya seorang supir yang sudah tidak memiliki orang tua lagi dan tidak jelas asal usulnya.
Andini semakin sedih karena ayahnya tetap tidak mau mengubah pendiriannya. Andini hanya bisa menangis meratapi nasibnya.
Abe sangat ingin bertemu dengan Andini tetapi ia yakin kalau ia tidak mungkin diizinkan oleh penjaga di rumah sakit dimana Andini dirawat. Ayah Andini pasti sudah memerintahkan orang-orangnya untuk mengusir Abe apabila ia muncul. Oleh karena itu, Abe pun mengurungkan niatnya. Akhirnya ia menyuruh Tedi pergi ke rumah sakit untuk mengetahui keadaan Andini. Tedi pun pergi tetapi baru sampai di pintu kamar tempat Andini dirawat ia sudah dicegat oleh penjaga dan dilarang masuk. Akan tetapi Tedi tidak kehabisan akal, ia mencegat perawat yang baru saja keluar dari kamar Andini kemudian bertanya pada perawat tersebut tentang keadaan Andini setelah itu barulah ia kembali dan memberitahukan keadaan Andini kepada Abe.
Ayah Andini pulang ke rumah untuk mengambil kebutuhan dan mengurus beberapa masalah kantor. Setiba di rumahnya ia langsung pergi ke kamar belakang, kamar tempat para pembantu, kamar yang pernah Abe tempati. Awalnya ia bermaksud untuk membersihkan dan membakar semua barang milik Abe yang tertinggal ketika ia di usir dari rumah.
Saat tiba di kamar Abe, Ayah Andini sangat terkejut melihat isi kamar Abe. Sejenak ia tertegun sambil melihat-lihat seisi kamar Abe. Ia pergi ke arah meja yang ada di kamar itu, membuka sebuah buku harian halaman demi halaman, lalu matanya menatap sebuah kertas yang tertempel di dinding, kertas itu ternyata adalah sebuah jadwal kuliah. Ayah Andini kemudian mengambil handphone dari dalam sakunya ia menghubungi sebuah universitas dan menanyakan jadwal wisuda dan meminta nama-nama beserta data mahasiswa yang akan diwisuda untuk dikirimkan ke kantornya.
Setelah selesai rapat di kantornya, Ayah Andini masuk keruangannya dan melihat data yang dimintanya telah tersedia di atas mejanya. Ia membuka halaman demi halaman dan kemudian matanya terpaku pada satu halaman. Setelah beberapa saat ia terpaku, ia mengambil handphonenya kemudian menghubungi anak buahnya untuk menyediakan mobilnya, lalu pergi dari kantornya.
Abe masih terlarut dalam kesedihannya, begitu juga dengan Andini yang berada di rumah sakit. Tedi menceritakan keadaan Andini yang ia ketahui dari perawat yang ia jumpai kepada Abe. Mendengar itu hati Abe sedikit tenang.
Abe sekarang berdiri di bawah sebuah pohon yang rindang mengenakan toga, Tedi berdiri di samping sahabatnya itu. Beberapa saat lagi acara wisuda akan dimulai, Tedi menyarankan agar Abe sedikit tenang dan bisa melupakan masalahnya untuk sejenak. Acara wisuda selesai, Abe masih terlihat sedih tidak seperti mahasiswa lainnya yang bergembira-ria. Tedi sahabatnya terus mencoba menghibur sahabatnya tersebut namun tak dipedulikannya.
Tiba-tiba sebuah tangan memegang pundak Abe dari belakang, Abe terkejut ketika menyadari siapa yang memegang pundaknya. Orang itu adalah mantan bosnya, Ayah Andini, orang yang telah mengusirnya, orang yang tidak merestui hubungannya dengan Andini. Orang itu tersenyum padanya dan memberikan selamat kepada Abe, membuat hati Abe semakin tak menentu dan bingung.
Ayah Andini menanyakan kepada Abe alasan kenapa Abe tidak menceritakan kalau ternyata selama ini Abe bekerja sambil kuliah. Abe pun memberitahukan semuanya, ia tidak ingin memberitahukan semua itu sebelum ia berhasil dan lulus, selain itu ia juga ingin agar Ayah Andini tidak menganggap remeh seseorang, tidak melihat seseorang hanya dari satu sisi saja. Mendengar semua itu Ayah Andini pun merasa malu dan bersalah, ia kemudian meminta maaf kepada Abe. Abe pun memaafkannya lalu keduanya berpelukan penuh haru. Setelah itu ketiganya pergi ke rumah sakit tempat Andini dirawat.
Ayah Andini masuk ke ruangan tempat Andini dirawat ditemani oleh Tedi sambil tersenyum menyapa Andini dan ibunya. Melihat tingkah ayahnya itu keduanya pun bingung. Ayah Andini menjelaskan semuanya kepada Andini dan ibunya, ayahnya pun meminta maaf kepada Andini karena kesalahannya terlalu menganggap remeh Abe. Setelah mendengar semua cerita ayahnya, Andini dan ibunya dengan tak sabar menanyakan kabar dan keberadaan Abe saat itu.


Tak lama kemudian pintu kamar terbuka, seorang pemuda masuk dengan mengenakan pakaian dokter. Andini terus mendesak ayahnya untuk memberitahukan keberadaan Abe dan tak memperhatikan pria yang barusan masuk mengenakan pakaian dokter tadi. Pria itu kemudian menyapa Andini dan menanyakan keadaannya, mendengar suara yang tak asing lagi baginya Andini kemudian melihat kearah suara itu berasal. Dengan reflek Andini langsung memeluk pria itu, semua orang yang ada di ruangan itu pun terharu melihat keduanya.

Selesai
DIALOG

Scene 1
INT. KOST TEDI: KAMAR TEDI, PAGI.
ABE duduk termenung sambil menatap keluar dari sebuah jendela. Wajahnya sedikit pucat dan lesu karena tidak makan beberapa hari. Pikirannya memikirkan keadaan ANDINI kekasihnya yang dirawat dirumah sakit karena mencoba untuk bunuh diri.
ABE                            :        Kenapa semua ini harus terjadi sama aku? Apa salah ku sampai Kau berikan masalah ini ke aku Tuhan? Sekarang aku cuma bisa duduk diam di sini, sementara orang yang aku sayang gak tau gimana kabarnya di sana. Aku betul-betul sedih, aku hancur. Aaaaaaaarrrrrrrrrrrgggggghhh…
                                            (Memegang dan meremas rambutnya sambil berteriak)
                 (Suara pintu kamar terbuka)
                 TEDI                           :        (Masuk ke dalam kamar)
                                                            Sudahlah bro, sekarang lebih baik kamu makan dulu, ini aku belikan nasi buat kamu, jangan terlalu dipikirkan, ntar kamu sakit loch. Aku yakin Andini bakal baik-baik aja!
                                                            (Membuka bungkusan nasi dan menaruhnya di hadapan ABE)
                 ABE                            :        Aku betul-betul gak berdaya sekarang Ted, orang yang aku sayang sekarang terbaring di rumah sakit sementara aku gak bisa ada di sampingnya. Aku benci dengan hidup aku, aku benci semuanya!!!
                 TEDI                           :        Kamu yang sabar aja yah bro, aku pasti bantu kamu kok tapi yang penting sekarang kamu makan dulu, kalau kamu juga sakit masalahnya akan semakin sulit, oke!
                                                            (Memegang dan menepuk-nepuk pundak ABE)


ABE memakan nasi yang disediakan TEDI namun hanya beberapa suap saja Ia langsung minum dan berhenti lalu kembali termenung.
                 (Hening)
                 ABE                            :        Aaaaaaaaaarrrrrrrggggghhhhhh…
                                                            (Berteriak dan menghambur semua barang yang ada di hadapannya)
                 (Suara barang berhamburan dan berserakan ke lantai)
                 TEDI                           :        Bro…
                                                            Apa yang kamu lakukan?
                                                            (Kesal pada ABE)
                 ABE                            :        Maafkan aku Ted, aku betul-betul gak mampu ngendalikan emosiku sendiri.
                                                            (Menangis)

                 TEDI                           :        Masalah yang kamu hadapi memang berat, tapi kamu jangan kalah dengan masalahmu, kamu harus kuat dan jangan terbawa emosi, berpikirlah supaya kita dapat jalan keluar dari masalahmu. Mana Abe yang selama ini aku kenal, Abe yang cerdas, pintar, tegar, dan tak pernah kehabisan akal,  yang bijak serta kuat.
                                                            (Menenangkan ABE)              
ABE kemudian bangun dari tempat duduknya, mengambil handuk yang tergantung di belakang pintu kamar, dan berjalan menuju kamar mandi.
                 (Suara pintu kamar mandi terbuka dan tertutup lagi)






Scene 2
INT. KOST TEDI: KAMAR MANDI, PAGI.
ABE berdiri mengahadap cermin yang tergantung di dinding, kemudian ABE menuju ke bak mandi, memutar keran dan becermin sejenak di permukaan air kemudian mencelupkan kepalanya ke dalam bak mandi itu. ABE berteriak sekuat tenaga di dalam bak mandi itu.
                 (Suara air dari keran)
                 ABE (Voiceover)       :        Tedi benar, aku sekarang betul-betul lemah, aku gak kayak biasanya, aku sekarang gak bisa berpikir dan mencari jalan keluar untuk masalahku sendiri, ada apa denganku sebenarnya???
                 (Perlahan bayangan masa lalunya mulai tampak)
Scene 3
FLASHBACK
EXT. RUMAH AYAH ANDINI: TAMAN BUNGA, SORE.
ANDINI duduk sendiri di taman bunga sambil membaca buku dan minum juice lemon dan mendengarkan musik dari Ipod Nanonya. ABE memandang dari kejauhan. ABE terpesona melihat kecantikan ANDINI.
                 ANDINI                      :        Kak Abe … sini cepaaat…
                                                            (Memanggil ABE)
                 ABE                            :        Ada apa Dek???
                                                            (Menghampiri ANDINI)
                 ANDINI                      :        Kakak ngeliatin adek ya dari tadi, ayoo ngaku!!!
                                                            (Tersenyum melihat ABE)
                 ABE                            :        Iiiiih… nggak kok dek… hehehehee
                                                            (Berbohong)
                 ANDINI                      :        Kakak ni malu-malu aja, kakak sibuk gak sore ini, temani adek di sini yah kak!
                 ABE                            :        Kakak mau cuci mobil dek, adek santai aja yah di sini.
                
                 ANDINI                      :        Yaaah Kakak…
                                                            (Kecewa)
                 ABE                            :        Lain kali Kakak temani dech, key?
                                                            (Pergi mencuci mobil)
Scene 4
EXT. RUMAH AYAH ANDINI: HALAMAN, SORE.
ABE mencuci mobil. ANDINI datang dan ikut mencuci mobil. Mereka tampak sangat akrab, mereka bermain air dan bercanda serta tertawa bersama.
                 (ABE menyiram mobil sambil menyanyi)
                 ANDINI                      :        Kak…
                 ABE                            :        Iya…
                                                            (Terkejut dan menoleh ke arah suara yang memanggilnya)
                 ANDINI                      :        Kakak lucu yah, cuci mobil sambil nyanyi.
                                                            (Tersenyum)
                 ABE                            :        Hahaha…
                                                            Berarti dari tadi adek perhatiin kakak ya?
                 ANDINI                      :        Gak kok, hehehe
                                                            Adek bantuin yah kak?
                                                            (Mengambil selang dan menyiram mobil)
                 ABE                            :        Jangan dek…
                                                            (Berusaha melarang tetapi ANDINI sudah memegang selang dan menyiram mobil)
                 (ANDINI menyiram ABE dengan air dan mereka tertawa bersama)
                 ABE                            :        Aaaahhh, hahahaahahaa
                                                            (Balas menyiram ANDINI)
                 ANDINI                      :        Aaaauuuwww…
                                                            (Terpeleset)
                 (ABE menangkap ANDINI dan mereka berpelukan serta bertemu pandang, dada ABE bergetar, begitu juga dengan ANDINI)
IBU RITA keluar dari dalam rumah. Ia memanggil ABE dan menyuruh ABE mengantarnya ke butik.
                 (IBU RITA berjalan keluar sambil mencari sesuatu dalam tas jinjingnya)
                 IBU RITA                    :        Abe … 
                                                            (Memanggil ABE)
                                                            Ibu mau ke butik, kamu antarkan ibu yah!
                 ABE                            :        Iya Bu…
                                                            Tapi saya ganti baju dulu yah, soalnya basah semua nich!
                                                            (ABE bergegas masuk ke dalam rumah dan kemudian menyiapkan mobil)
                 ANDINI                      :        Aku masuk dulu yah Kak!
                                                            (Tersenyum kepada ABE lalu masuk ke dalam rumah)
                 ABE                            :        Iya Dek…
                                                            (Balas tersenyum)
Scene 5
INT. RUMAH AYAH ANDINI: TAMAN BUNGA, MALAM.
ABE duduk sambil membaca buku. ANDINI datang diam-diam kemudian menutup mata ABE dari belakang. ABE terkejut kemudian menoleh kebelakang dan tersenyum ketika melihat ANDINI.
                 (Kamera fokus pada buku yang dibaca ABE, buku itu adalah buku tentang organ tubuh manusia)
                 ABE                            :        Aaaah…
                                                            (Terkejut dan memegang tangan yang menutup matanya)
                 ANDINI                      :        Kenapa Kak, terkejut ya???
                                                            Hehehe…
                 ABE                            :        Iya Dek…
                                                            Belum tidur dek???
                 ANDINI                      :        Belum kak, adek gak bisa tidur
                 ABE                            :        Kenapa???
                 ANDINI                      :        Mikirin Kakak.
                                                            (Duduk di samping ABE)
                 ABE                            :        Kenapa mikirin Kakak?
                                                            (Berhenti membaca buku dan kemudian menatap mata ANDINI)
                 ANDINI                      :        Kakak kok ngeliatin adek gitu sih?
                                                            (Tersipu malu)
                 ABE                            :        (Tersenyum)
                 ANDINI                      :        Kak, adek ngerasa mereka papa dan mama mulai curiga dengan hubungan kita!
                 ABE                            :        Terus?
                 ANDINI                      :        Kakak ini gimana sih, kalau mereka benar-benar tahu terus gak setuju gimana?
                 ABE                            :        Menurut kakak, cepat atau lambat mereka memang akan tahu, tapi lebih baik mereka tahu dari kita dari pada dari orang lain dek!
                 ANDINI                      :        Maksud kakak kita kasih tahu sekarang gitu?
                 ABE                            :        Iya, kenapa nggak? Adek takut?
                 ANDINI                      :        Adek gak takut, adek cuma terkejut aja, tapi adek senang, itu artinya kakak serius ama adek!
                 ABE                            :        Kakak kan udah pernah bilang kalau Kakak gak main-main sama adek.
                 ANDINI                      :        Kalau gitu tunggu apa lagi kak, ayuk!
                                                            (Menarik tangan ABE)



Scene 6
INT. RUMAH AYAH ANDINI: RUANG TAMU, MALAM.
AYAH ANDINI dan IBU RITA duduk sambil menonton televisi.
                 (Suara televisi)
                 AYAH ANDINI            :        Bu, belakangan ini papa liat tingkah anak kita berubah.
                                                            (Mengambil sebatang rokok menyalakannya kemudian menghisapnya)
                 IBU RITA                    :        Mama nggak ngerti maksud papa!
                                                            (Mengambil jarum sulaman dan mulai menyulam)
                 AYAH ANDINI            :        Biasanya Andini nggak mau pake supir pergi ke kampus, tapi sekarang nggak mau ke kampus kalau tanpa supir.
                                                            (Mengeluarkan asap rokok dari hidungnya)
                 IBU RITA                    :        Aaah papa ini, kayak nggak tahu Andini aja, dia kan memang gitu.
                                                            (Menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya)
ABE dan ANDINI datang menghampiri AYAH ANDINI dan IBU RITA ingin menceritakan hubungan mereka.
                 ANDINI                      :        Papa mama…
                                                            (Menggandeng tangan ABE)
                 ABE                            :        Ssssttt…
                                                            (Melepaskan tangan ANDINI)
                                                            Malam Pak, malam Bu!
                                                            (Tersenyum)
                 AYAH ANDINI            :        Ada apa?
                                                            (Menatap tajam ke arah ABE)
                 ANDINI                      :        Abe  mau ngomong sesuatu pa.
                                                            (Melihat ke mata ABE dan tersenyum)
                 AYAH ANDINI            :        Mau ngomong apa?
                 IBU RITA                    :        Papa kok gitu sich, coba ngmong tu yang baik dikit kek, duduk sini kalian dua.
                                                            (Mempersilahkan ABE dan ANDINI duduk)
                 ABE                            :        Makasih Buk.
                                                            (Duduk)
                 AYAH ANDINI            :        Kau mau minta gaji?
                                                            (Cuek dan tetap menghisap rokoknya)
                 ABE                            :        Saya langsung aja Pak, saya suka sama anak Bapak, dan…
                                                            (Terhenti)
AYAH ANDINI berdiri dari tempat duduknya, ia syok dan terkejut serta marah.
                  AYAH ANDINI           :        Apa kamu bilang?
                 ANDINI                      :        Papa… Abe  belum selesai ngomong.
                 AYAH ANDINI            :        Diam kamu, papa sudah curiga dengan sikap kamu belakangan ini.
                                                            (Membentak ANDINI)
                 ABE                            :        Andini tidak salah Pak, saya yang salah.
                 AYAH ANDINI            :        Diam kamu, sekarang kamu bereskan barang-barangmu dan pergi atau saya suruh satpam untuk mengusirmu!
                                                            (Menunjuk ke arah ABE)
                 IBU RITA                    :        Papa…
                 ABE                            :        Saya akan pergi.
                                                            (Melangkah keluar)
Kamera mengikuti langkah ABE.
 ANDINI menangis di pelukan IBU RITA.
END FLASHBACK

Scene 7
INT. KOST TEDI: KAMAR TEDI, PAGI.
TEDI mengambil sebuah sapu kemudian menyapu lantai yang kotor dan membersihkannya. TEDI membereskan semua barang yang berantakan setelah dihambur oleh ABE. Wajahnya tampak sedikit kesal namun Ia mencoba untuk tetap bersabar karena ia prihatin dengan masalah yang dihadapi ABE.
                 (Suara TEDI Menyapu)
                 TEDI                           :        Huuuuh…
                                                            (Menarik nafas dalam-dalam kemudian mengehembuskannya)
Scene 8
INT. KOST TEDI: KAMAR TEDI, PAGI.
                 (Suara pintu kamar mandi terbuka)
ABE keluar dari kamar mandi.
                 ABE                            :        Ted, aku minta maaf udah buat semuanya berantakan.
                                                            (ABE duduk di atas tempat tidur, Ia mengelap wajahnya dengan handuk)
                 TEDI                           :        Sudahlah Bro, gak apa-apa kok!
                                                            (Menyapu lantai dan membersihkannya)
                 ABE                            :        Aku mau minta tolong bisa nggak, aku mau kamu ke rumah sakit terus cari tahu kabar Andini kemudian kasih surat ini ke dia.
                                                            (Mengambil secarik kertas dari dalam tasnya)
                 TEDI                           :        Oke Bro.
                                                            (Mengambil kertas dari tangan ABE lalu pergi)




Scene 9
INT. RUMAH SAKIT: KAMAR VIP, SIANG.
ANDINI terbaring lemas karena kehabisan banyak darah setelah usaha bunuh dirinya gagal. IBU RITA  duduk di samping ranjang ANDINI sambil memegang tangan ANDINI. AYAH ANDINI berdiri menatap keluar ruangan dari sebuah jendela.
                 (Suara jam dinding yang terus berdetak)
                 IBU RITA                    :        Andini, anakku…
                                                            (Menangis)
                 AYAH ANDINI            :        Abe  memang anak sialan, kalau sampai Andini kenapa-kenapa aku bakal cari dia.
                                                            (Menggenggam handphone di tangannya dengan kuat karena kesal)
ANDINI mulai sadar.
                 (Tangan ANDINI mulai bergerak)
                 ANDINI                      :        Papa, mama…
                                                            (Suaranya lemah)
                 IBU RITA                    :        Pa… Andini mulai sadar Pa.
                                                            (Memanggil AYAH ANDINI)
AYAH ANDINI berjalan menuju tempat tidur ANDINI. ANDINI menangis. IBU RITA menenangkan ANDINI.
                
                 (Suara tangisan ANDINI)
                 IBU RITA                    :        Sudahlah sayang, jangan nangis, kamu masih lemah.
                                                            (Memegang tangan ANDINI)
AYAH ANDINI mengelus kening ANDINI.



Scene 10
INT. RUMAH SAKIT: LORONG RUMAH SAKIT, SORE.
Handphone AYAH ANDINI berdering. AYAH ANDINI menerima telepon dari kantornya.
                 (Suara handphone berdering)
                 AYAH ANDINI            :        Iya, hallo…
                 (Suara dari telepon)
                  AYAH ANDINI           :        Oke saya sebentar lagi ke sana!
                                                            (Mematikan handphonnya)
                                                            Bu, Papa harus ke kantor sekarang, ada urusan yang sangat penting.
                 IBU RITA                    :        Papa ini gimana sich, anak sakit malah urusan kantor diutamakan?
                                                            (Marah pada ayah ANDINI)
                 AYAH ANDINI            :        Tapi ini menyangkut masa depan papa di perusahaan Ma, papa janji papa bakal ke sini lagi secapatnya.
                 IBU RITA                    :        Ya sudahlah…
                                                            (Kecewa dengan suaminya)
                 AYAH ANDINI            :        Papa pergi dulu yah nak.
                                                            (Mencium kening ANDINI)
AYAH ANDINI bicara dengan DUA ORANG PENJAGA yang berdiri di depan kamar ANDINI.
                 AYAH ANDINI            :        Jangan biarkan ada orang yang tidak jelas identitasnya masuk ke kamar anak saya, ngerti?
                 PENJAGA                   :        Baik Boss…





Scene 11
EXT. RUMAH SAKIT: PARKIRAN, SORE.
AYAH ANDINI berjalan dengan tergesa-gesa dan bertabrakan dengan TEDI tetapi mereka tidak saling kenal.
                 AYAH ANDINI            :        Hei, kalau jalan pakai mata!
                                                            (Masuk ke dalam mobil)
                 TEDI                           :        Maaf pak, maaf saya buru-buru!                              

Scene 12
INT. RUMAH SAKIT: LORONG RUMAH SAKIT, SORE.
TEDI tiba di depan ruangan tempat ANDINI dirawat tetapi langkahnya terhenti karena melihat ada DUA ORANG PENJAGA di depan pintu kamar tempat ANDINI dirawat.
                 (TEDI bicara dalam hati)
                 TEDI                           :        Busyet…
                                                            Besar-besar lagi penjaganya!
                                                            Gimana caranya aku masuk ke kamar Andini kalau ada penjaganya gini!
CLEANING SERVICE keluar dari salah satu ruangan. TEDI kemudian mendapatkan akal, lalu TEDI mengikuti CLEANING SERVICE itu dan mengambil peralatannya kemudian menyamar dan masuk ke kamar ANDINI.
Scene 13
INT. RUMAH SAKIT: KAMAR VIP, SORE.
IBU RITA keluar, TEDI masuk. ANDINI terkejut melihat TEDI menyamar sebagai CLEANING SERVICE.
                 ANDINI                      :        Tedi….
                 TEDI                           :        Ssssstttt….
                                                            (Menaruh jari telunjuknya di bibir dan menyuruh ANDINI diam)
TEDI menyerahkan surat dari ABE  kepada ANDINI.
                 ANDINI                      :        Apa ini?
                                                            (Sambil membuka amplop)
                 TEDI                           :        Udah buka aja!
ANDINI membaca surat itu, air matanya menetes.
Scene 14
INT. KOST TEDI: KAMAR TEDI, MALAM.
ABE mondar-mandir menunggu kedatangan TEDI terkadang matanya menatap jam yang tergantung di dinding. Hatinya resah.
                 ABE                            :        Aduh, kenapa sampe jam segini Tedi belum datang juga ya?
                                                            Kira-kira dia ketemu gak ya sama Andini?
                                                            Ooohhh… Andini, aku betul-betul khawatir sama keadaan kamu!
                                                            (Melangkah ke kursi dan duduk merenung lalu menatap ke langit dan melihat bintang yang bertaburan dari sebuah jendela)
Scene 15
FLASHBACK
EXT. / INT. JALANAN: DALAM MOBIL ANDINI, SIANG.
ABE mengantarkan ANDINI ke kampus. ABE melirik ke arah ANDINI melalui kaca spion mobil.
                 ABE                            :        (Bicara dalam hati)
                                                            Gila….
                                                            Cantiknya kamu Andini!
                 ANDINI                      :        Ada yang salahkah Kak sama penampilan Adek?
                                                            (Bertanya sambil tersenyum karena tahu ABE memperhatikannya)
                 ABE                            :        Ah, eh, gak kok Dek!
                                                            (Gugup dan salah tingkah)
                
                 ANDINI                      :        Kak…
                                                            Di depan belok kiri yah!
                 ABE                            :        Tapi dek!
                 ANDINI                      :        Udahlah kak, aku gak mau kuliah hari ini, cepat belok kiri!
ABE membelokkan mobilnya.
Scene 16
EXT. / INT. PANTAI: WARUNG KECIL, SIANG.
ANDINI dan ABE minum es kelapa.
                 ANDINI                      :        Mmmmm….
                                                             Segarnya yah Kak panas-panas gini minum es kelapa!
                                                            (ANDINI terus memandang ABE, ABE salah tingkah dan gugup)
                                                            Kakak nggak mau ngomong sesuatukah ke Adek?
                                                            (ANDINI memancing ABE untuk mengungkapkan perasaannya)
                 ABE                            :        Uhuk… uhuk….
                                                            (Batuk karena gugup)
                                                            Adek ngomong apa tadi?
                 ANDINI                      :        Uuuuhh… Kakak ini, Adek ngomong kok nggak diperhatiin sich?
                 ABE                            :        Kakak bingung mau ngomong apa!
                                                            Kakak takut buat ngomonginnya, Kakak takut Adek bakal marah ma Kakak.
                 ANDINI                      :        Iiiih, Kakak ini kayak anak kecil aja, kalau mau ngomong ya ngomong aja!
                 ABE                            :        Kakak, Kakak, Kakak sebenarnya….
                                                            (Terhenti)
                
                 ANDINI                      :        Kakak sebernya kenapa?
                                                            (Penasaran)
                 ABE                            :        Sebenarnya sejak pertama kita ketemu, Kakak ngerasa kalau Kakak tu suka sama Adek!
                                                            Kakak ngerasa kalau Kakak jatuh cinta sama Adek, tapi Kakak takut buat ngomongnya, Kakak takut Adek bakal marah sama Kakak!
                                                            (ABE mengungkapkan semua perasaannya)
ANDINI tersenyum, ABE bingung.
                 ABE                            :        Adek nggak marahkah sama Kakak?
                 ANDINI                      :        Untuk apa Adek marah sama Kakak?
                                                            Adek juga ngerasain hal yang sama Kak sejak pertama kali kita ketemu!
                                                            Adek juga suka sama Kakak!
                                                            (ANDINI juga mengungkapkan perasaannya dan tersenyum)
Mereka tersenyum bahagia.
                 ANDINI                      :        Eeiiitsss…
                                                            Jangan senang dulu Kak, ada syaratnya loch!
                 ABE                            :        Apa syaratnya?
                 ANDINI                      :        Kejar Adek sampai dapat!
                                                            (Berlari keluar)
Scene 17
EXT. PANTAI: PESISIR PANTAI, SIANG.
ANDINI dan ABE bermain air dan berkejar-kejaran. Mereka sangat bahagia.
END FLASHBACK


Scene 18
INT. RUMAH SAKIT: KAMAR VIP, SORE.
TEDI pergi meninggalkan ANDINI.
                 TEDI                           :        An…
                                                            Aku balik dulu yah, aku takut ntar mereka mamamu datang!
                 ANDINI                      :        Tenang aja Ted, mamaku gak bakal marah kok!
                 TEDI                           :        Tapi aku harus balik sekarang An, pasti Abe  sekarang lagi nunggu kabar tentang kamu!
                 ANDINI                      :        Ya sudahlah, oya ini!
                                                            (ANDINI memberikan secarik kertas kepada TEDI)
Scene 19
EXT. JALANAN: WARUNG NASI, MALAM.
TEDI memarkirkan kendaraannya di pinggir jalan. TEDI masuk ke sebuah warung dan keluar dengan membawa dua bungkus nasi.
Scene 20
INT. KOST TEDI: KAMAR TEDI, MALAM.
ABE berdiri menatap keluar kamar dari jendela.
                 (Suara pintu kamar terbuka)
                 TEDI                           :        Sorry bro!
                                                            Tadi aku lama jalannya!
                                                            (TEDI masuk dan menyadarkan ABE dari lamunannya)
                 ABE                            :        Gimana kabar Andini, dia baik-baik aja kan, dia sudah sadarkan diri kan, dia nggak kenapa-napa kan?
                 TEDI                           :        Santai aja donk tanyanya!
                                                            Ini…
                                                            (Menyerahkan sebuah amplop kepada ABE)
                
                 ABE                            :        Apa ini?
                                                            (Membuka amplop)
                 TEDI                           :        Udah baca aja dulu!
ABE membaca surat, air matanya mulai berlinang.
Scene 21
INT. RUMAH SAKIT: KAMAR VIP, MALAM.
IBU RITA menyuap ANDINI dengan bubur.
                 ANDINI                      :        Ma…
                                                            Andini mohon restui hubungan Andini Ma…
                                                            (Memohon pada Ibunya)
                                                            Bujuk papa juga supaya merestui hubungan Andini Ma..
                 IBU RITA                    :        Iya, nanti Mama coba bicara sama Papamu!
                                                            (Mengelus kening Andini)
AYAH ANDINI masuk dengan membawa buah-buahan.
                 AYAH ANDINI            :        Gimana perasaanmu sekarang?
                                                            (Membelai rambut ANDINI)
                 ANDINI                      :        Udah lumayan Pa…
DOKTER dan SEORANG PERAWAT masuk dan memeriksa keadaan ANDINI.
                 DOKTER                     :        Permisi Pak, Bu…
                                                            Ada keluhan dek?
                                                            Masih mual-mualkah?
                                                            (Memeriksa ANDINI)
                 ANDINI                      :        Udah nggak lagi Dok!
                 AYAH ANDINI            :        Kapan anak saya bisa keluar Dok?
                 DOKTER                     :        Besok sudah boleh keluar!
                                                            Tapi harus sering check up dan jangan coba-coba untuk bunuh diri lagi!
                 IBU RITA                    :        Itu dengar kata Dokter!
                 DOKTER                     :        Kalau gitu ini resepnya!
                                                            (Memberikan selembar kertas kepada AYAH ANDINI)
DOKTER dan PERAWAT keluar dari ruangan.
Scene 22
INT. KOST TEDI: KAMAR TEDI, MALAM.
TEDI pergi ke kamar mandi meninggalkan ABE sendiri.
                 TEDI                           :        Aku mandi dulu yah!
                                                            (Berjalan menuju kamar mandi)
ABE kembali termenung setelah membaca surat dari ANDINI.
Scene 23
INT. RUMAH SAKIT: KAMAR VIP, MALAM.
ANDINI tidur dengan lelapnya, IBU RITA masih memegang tangan ANDINI. AYAH ANDINI menyelimuti ANDINI.
                 AYAH ANDINI            :        Andini sudah tidur Bu, ayuk kita pulang dulu!
                                                            (Memegang pundak IBU RITA)
Scene 24
EXT. / INT. JALANAN: DALAM MOBIL AYAH ANDINI, MALAM.
IBU RITA mulai membujuk AYAH ANDINI untuk tidak berkeras hati dan harus merestui hubungan anak mereka.
                 IBU RITA                    :        Pa, Mama rasa Papa perlu mempertimbangkan lagi deh keputusan Papa!
                                                            Papa mau Andini berbuat nekad lagi? Alangkah baiknya kita merestui hubungan mereka, lagian Abe anak yang baik kok, dia juga penuh sopan santun!
AYAH ANDINI hanya diam saja mendengarkan istrinya bicara.


Scene 25
INT. KOST TEDI: KAMAR TEDI, MALAM.
TEDI tidur mendengkur di samping ABE. ABE berbaring tetapi matanya tidak dapat dipejamkan. ABE kembali membaca surat yang dititipkan oleh ANDINI melalui TEDI.
                 (Suara dengkuran TEDI)
Scene 26
INT. RUMAH AYAH ANDINI: KAMAR ABE, MALAM.
AYAH ANDINI masuk ke dalam, ia bermaksud untuk membakar barang-barang ABE yang tertinggal di kamar itu.
                 AYAH ANDINI            :        Abe memang anak sialan, istriku juga mulai membelanya, anakku hampir mati bunuh diri karena dia juga!
Matanya melihat sekeliling kamar, Ia terkejut melihat isi kamar tersebut, kamar ABE ternyata penuh dengan buku-buku perkuliahan. Ia kemudian pergi meninggalkan ruangan tersebut dengan rasa penasaran setelah melihat semua buku itu.
Scene 27
INT. RUMAH AYAH ANDINI: RUANG MAKAN, PAGI.
AYAH ANDINI dan IBU RITA duduk sarapan bersama.
                 AYAH ANDINI            :        Bu, tadi malam Papa masuk ke kamar Abe, mau buang terus bakar semua barang dia, tapi…
                 IBU RITA                    :        Tapi apa Pa?
                 AYAH ANDINI            :        Papa bingung, liat buku koleksinya, kayaknya dia anak kuliahan, Papa juga liat surat di atas mejanya, di situ tertulis kalau dia mau di wisuda besok!
                 IBU RITA                    :        Apa???
                                                            (Terkejut)
                 AYAH ANDINI            :        Iya, ini suratnya!
                                                            (Memberikan secarik kertas)
                                                            Papa ke kantor dulu Ma, ada urusan, ntar Mama ke rumah sakitnya diantar supir aja yah!
                                                            (Mencium pipi IBU RITA lalu pergi)
IBU RITA membaca surat tersebut.
Scene 28
EXT. / INT. JALANAN: DALAM MOBIL AYAH ANDINI, PAGI.
AYAH ANDINI mengambil handphone dari sakunya, ia kemudian menelepon KAMPUS tempat ABE kuliah untuk mencari tahu tentang ABE. Ia meminta data tentang ABE.
                 AYAH ANDINI            :        Hallo, selamat pagi!
                                                            (Suara dari seberang)
                                                            Iya, saya Pak Broto Pratama, saya mau minta tolong carikan data tentang seorang mahasiswa kedokteran yang akan diwisuda besok, namanya Abe Prastya, jurusan kedokteran, kirimkan ke email saya, terima kasih!
                                                            (Mematikan handphone-nya)
Scene 29
INT. KANTOR AYAH ANDINI: RUANG DIREKTUR, PAGI.
AYAH ANDINI masuk dan langsung duduk di kursinya. Ia mengambil map yang ada di atas meja kemudian membuka dan membacanya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia mengambil handphonenya kemudian menghubungi ANAK BUAHNYA untuk mencari tahu keberadaan ABE.
                 AYAH ANDINI            :        Tolong kamu cari tahu dimana keberadaan supir saya yang bernama Abe, kalau sudah ketemu hubungi!
                                                            (Mematikan handphone-nya)
Scene 30
INT. KOST TEDI: KAMAR TEDI, PAGI.
ABE mengucek matanya karena baru bangun tidur. Melihat ke arah tempat tidur TEDI ternyata TEDI telah pergi. ABE bangun dan menuju kamar mandi.
                 (Suara air dari kamar mandi)
Pintu kamar terbuka, TEDI masuk dengan membawa makanan.



Scene 31
INT. RUMAH SAKIT: KAMAR VIP, PAGI.
ANDINI membaca surat yang dibawa TEDI kemarin, IBU RITA masuk dengan tersenyum.
                 IBU RITA                    :        Pagi, cantik!
                                                            Kok senyum-senyum sendiri sich?
                                                            (Menyapa ANDINI)
                 ANDINI                      :        Iiiiih, Mama…
                                                            (Tersipu malu dan buru-buru menyembunyikan surat yang dibacanya tadi)
Scene 32
INT. KOST TEDI: KAMAR TEDI, PAGI.
Pintu diketuk dari luar, TEDI membuka pintu dan terkejut melihat AYAH ANDINI berdiri di hadapannya.
                 AYAH ANDINI            :        Apa benar Abe menginap di sini?
                 TEDI                           :        I…iya Om.
                                                            Be… Abe!!!
                                                            (Memanggil ABE)
ABE keluar dari kamar mandi dan terkejut
                 TEDI                           :        Silahkan masuk Om!
                 AYAH ANDINI            :        Iya, terimakasih!
ABE hanya diam saja, Ia bingung, sedih, kesal, dan semua rasa bercampur aduk dalam dirinya
                 ABE                            :        Ngapain Bapak datang kesini?
                 AYAH ANDINI            :        Abe, saya datang kesini mau minta maaf, saya terlalu memandang sebelah mata, saya terlalu meremehkan kamu, saya malu dengan diri saya sendiri, saya mungkin tidak akan bisa seperti kamu! Kamu anak yang hebat, wajar kalau anak saya sampai mau bunuh diri karena cintanya ke kamu, saya harap kamu mau memafkan saya!
                 ABE                            :        Pergi Bapak dari sini!
                                                            (Mengusir AYAH ANDINI)
AYAH ANDINI keluar
                 TEDI                           :        Abe…
                                                            Apa-apaan kamu ini, Ayah Andini datang kesini dengan maksud baik-baik tapi kamu malah buat kelakuan kayak manusia yang gak berpendidikan, aku kecewa sama kamu!
                                                            Apa sich sebenarnya yang kamu mau, kamu mau Pak Broto berlutut di hadapan kamu, itu udah nggak mungkin!
TEDI keluar mengejar AYAH ANDINI, ABE berdiri kaku seperti patung
                 TEDI                           :        Maafkan Abe Om!
                 AYAH ANDINI            :        Gak papa, Om yang salah!
ABE datang mengahampiri TEDI dan AYAH ANDINI
                 ABE                            :        Maafkan saya Pak, saya tidak ada maksud membentak Bapak!
                 AYAH ANDINI            :        Bapak juga minta maaf Be, kamu mau kan maafkan Bapak?
                 ABE                            :        Iya, Pak!
ABE dan AYAH ANDINI berpelukkan
Scene 33
INT. RUMAH SAKIT: KAMAR VIP, PAGI.
ANDINI berbaring di atas tempat tidurnya, sementara IBU RITA membersihkan meja tempat sarapan ANDINI, pintu kamar diketuk, AYAH ANDINI masuk.
                 (Suara pintu kamar di ketuk)
                 AYAH ANDINI            :        Pagi cantik…
                                                            (Mencium kening ANDINI)
                                                            Papa punya kejutan buat kamu!
                 ANDINI                      :        Apa itu Pah?
                                                            (Penasaran)
                 IBU RITA                    :        Kamu kayak gak tau Papamu aja, orangnya kan penuh kejutan!
                 AYAH ANDINI            :        Tapi itu yang buat Mamamu tergila-gila sama Papa…
                 (Mereka tertawa bersama-sama)
DUA ORANG (ABE dan TEDI) dengan pakaian DOKTER masuk ke ruangan tetapi ANDINI tidak memperhatikan DOKTER tersebut
                 ANDINI                      :        Apa sich kejutannya Pa???
                                                            Penasaran nich!
                 DOKTER                     :        Ini kejutannya!
ANDINI terkejut mendengar suara yang sudah tak asing lagi baginya. ANDINI menoleh ke belakang, ia terkejut dan tak dapat berkata apa-apa. ANDINI diam bagai patung. ABE menyapanya lagi kemudian keduanya berpelukan. Semua orang diruangan itu terharu.
Scene 34
EXT. KAMPUS: HALAMAN KAMPUS, PAGI.
ANDINI, IBU RITA, AYAH ANDINI, dan TEDI berdiri di salah satu sudut tempat menunggu ABE.
                 ANDINI                      :        Aduh, Abe kok lama betul yah!
                 IBU RITA                    :        Sabar cantik…
                                                            (Menenangkan ANDINI)
                 AYAH ANDINI            :        Itu lihat, siapa yang datang!
                                                            (Menunjuk ke arah ABE)
ABE datang dengan mengenakan sebuah toga, Ia terlihat sangat gagah.
ABE memeluk TEDI, bersalaman dengan AYAH ANDINI kemudian dengan IBU RITA, dan terakhir ia memeluk ANDINI.
Scene 35
EXT. KAMPUS: DI TAMAN KAMPUS, PAGI.
ABE, ANDINI, AYAH ANDINI, IBU RITA berfoto bersama, TEDI
                 TEDI                           :        Satu, dua, tiga….
                 (Suara Kamera)
……….selesai………..

0 Comments:

Posting Komentar



Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda