AKU


Dengan ego ku tunjukkan,
Dengan semangat ku perlihatkan,
Dengan pena ku tulis,
Dengan kuas ku lukis,
Dengan malu ku katakan,
Dengan bijak ku ungkapkan,
Terlalu kaku untukku katakan,
Bahwa itulah aku…

DOA

Lewat seuntai kata,
Ku ucapkan pinta yang tak terkira,
Ku gantungkan asa pada Yang Maha Kuasa,
Dan menunggu ingin menjadi nyata…

Dengan sebuah kata,
Kututup doa dan pinta,
hanya ucapan trima kasih,
dan kata amin di akhir doa…

PERPISAHAN

Ku tulis kata perpisahan,
Karna ku tak ingin kau terluka,
Ku tulis kata perpisahan,
Karna ku tau itu yang terbaik,
Kutulis kata perpisahan,
Sebagai akhir dari pertemuan…

JOGJAKARTA

Jogjakarta,,,
Kau begitu indah,
Kau begitu ramah,
Jogjakarta,,,
Hanya ini yang dapat kuberi,
Kutulis namamu dalam puisi,
Jogjakarta,,,
Terlukis namamu dalam kalbuku,
Terlihat keindahanmu oleh mataku,
Jogjakarta,,,
Kau ada,
Untukku,
Untukmu,
Dan untuk semuanya…

CINTAKU PADAMU

Kau datang tanpa diundang,
Kau masuki hati tanpa permisi,
Kau buat hariku berbeda,
Kau bisa mengubah segalanya…

Suatu rasa yang berbeda,
Dimana rasa suka laksana api membara,
Ingin slalu mengelilingimu,
Mengurungmu untuk slalu bersamaku…

Sesak dadaku memikirkanmu,
Memburu nafasku mengejarmu,
Menggelegar bunyi semangatku,
Hanya untuk mendapatkanmu…

SAHABAT

Kau ada,
Disaat ku berduka,
Kau ingatkanku,
Disaat ku terlupa,
Kau beri,
Yang tak kupunya,
Kau segalanya,
Dan untuk selamanya…

Alexandria Nicole

“Alexandria Nicole menambahkan anda sebagai temannya Konfirmasi Abaikan”
Kalimat itu muncul di beranda facebook ku. Sejenak aku termenung karena nama itu hampir sama dengan namaku, Alexandria Colin. Tanpa pikir panjang ku arahkan cursor ku dan ku klik kata konfirmasi. Saat itu juga facebook ku dengan facebook-nya terhubung dan kami pun berteman lewat facebook.
“Thanks yah udah confirm aku”, tulisnya di dindingku.
“U re welcome”, balasku.
Dari situlah semuanya berawal, persahabatan yang kemudian menjadi persaudaraan. Setiap kali aku membuka facebook, profil pertama yang aku lihat adalah profilnya, Alexandria Nicole. Aku selalu ingin tahu apa saja aktivitasnya di dunia maya. Begitulah hari-hariku.
Apabila aku tidak melihat aktivitasnya di dunia maya, timbul rasa kesepian dalam hatiku. Apabila aku melihat statusnya seperti orang patah semangat, aku orang pertama yang koment dan memberikan semangat. Apabila aku melihat statusnya lagi sedih, aku orang pertama yang koment dan menghiburnya. Apabila aku melihat statusnya lagi bahagia, aku orang pertama yang koment dan memberikan selamat. Bahkan tidak jarang aku selalu ngelike statusnya yang menurutku menarik. Begitu juga dengannya.
Semakin hari persahabatan kami semakin erat. Kami bertukaran nomor hape, smsan, chatting, dan tidak jarang kami teleponan. Kami memang belum pernah bertemu sekalipun tetapi diantara kami tumbuh rasa yang sangat erat. Sampai pada akhirnya dia mengangkat aku sebagai kakaknya.
“Kak, aku anak tunggal, aku pengen punya kakak, Kakak mau nggak jadi kakak aku?”, tanyanya kepadaku.
Tanpa pikir panjang aku pun  menjawab,”Iya, kakak mau dek”.
Mulai saat itu aku dengannya semakin akrab. Bahkan, tanpa sungkan ia memperkenalkan aku dengan kedua orang tuanya.
“Pah, Mah, sekarang aku punya kakak, dia kuliah di Jogja, namanya Alexandria Colin”, begitu katanya kepada kedua orang tuanya.
Hari terus berlalu, cerita demi cerita terjadi di antara kami berdua. Jarak yang jauh antara aku dan dia tak menjadi masalah, aku di Jogja dia di Kaltim tetapi komunikasi kami selalu lancar.
Facebook menjadi saksi biksu dari semuanya. Facebook mencatat apa yang aku dan dia tulis baik di dinding maupun di inbox. Hal yang bersifat sangat penting kami tulis di inbox dan hal yang bersifat biasa saja seperti menanyakan kabar biasa kami tulis di dinding.
Perhatianku terhadapnya dan perhatiannya terhadapku melebihi perhatian saudara kandung. Saat pagi menjelang di hape ku selalu muncul sms darinya yang selalu mengingatkanku untuk bangun, mandi, dan jangan lupa sarapan sebelum berangkat ke kampus. Begitupun denganku, aku selalu mengingatkannya agar jangan lupa makan karena aku tahu dia punya maag.
“Kak, Kakak mau Adek kirimi amplang nggak?” Tanyanya kepadaku saat kami berteleponan.
“Terserah Adek aja.” Jawabku.
Tiga hari setelah kami teleponan itu, Bapak kost memanggilku dan memberikan sebuah paket kepadaku. Ternyata itu adalah amplang dari Nicole. Akupun langsung mengambil hapeku dan menghubunginya untuk mengucapkan terima kasih.
Beberapa kali aku berusaha meneleponnya tetapi tidak diangkat juga. Aku kemudian mengirimkan sms kepadanya tetapi tidak ada balasan. Aku membuka facebook dari opera mini di hapeku kemudian mencari profil Alexandria Nicole. Aku perhatikan ternyata setelah kami teleponan tiga hari yang lalu Nicole tidak pernah mengupdate statusnya. Dan pesan dinding dari para sahabatnya tidak ada yang dibalasanya. Tidak biasanya Nicole seperti ini.
Rasa penasaran muncul dalam hatiku. Ku coba lagi untuk meneleponnya tetapi kali ini nomornya mati total. Aku kirimi sms untuk kesekian kalinya kenomornya. Tidak hanya sampai disitu aku juga menghubunginya dari facebook, ku tulis di dinding dan ku kirim pesan ke inboxnya.
Setiap saat aku menanti hapeku berdering. Aku berharap ada Nicole menghubungiku. Aku berharap ada sms dari Nicole.
Suatu ketika aku lagi makan dan hapeku berdering, ku tinggalkan makananku dan berlari untuk mencuci tangan dan mengambil hapeku. Rasa kecewa menyelimutiku ketika aku melihat sms di hapeku yang ternyata hanya dari operator. Kemudian lemparkan hapeku ke tempat tidur. Kubereskan nasi sisa makanku. Aku tak selera lagi menlajutkan makanku. Sudah hampir seminggu aku tak mendengar kabar dari Alexandria Nicole, sudah hampir seminggu aku loss contact dengannya.
Rasa hatiku sungguh tidak menentu, aku tidak ada semangat untuk melakukan aktivitasku. Tidak ada yang sms aku, mengingatkanku untuk makan, mandi, dan lain-lain.
Malam semakin larut tetapi mataku tidak sedikitpun menunjukan tanda-tanda akan terlelap. Berulangkali aku berusaha memejamkan mataku tetapi selalu gagal. Aku bangun dari tempat tidurku, kunyalakan komputerku dan ku konek-kan ke internet. Ku buka firefox di komputerku kemudian aku membuka facebook.
Mataku terbelalak ketika aku membaca sebuah status yang berbunyi sebagai berikut:
“Kalau aku masih dikasih kesempatan untuk melihat matahari esok, kalau aku masih bisa bernafas, dan kalau aku masih hidup, aku ingin masih bisa menulis di facebook ini, aku ingin menyapa kak Colin, aku ingin…”
Tulisan itu status Nicole. Ku tulis koment ku di bawah statusnya, sebagai berikut:
“Adek kenapa sms kakak gak pernah dibalas, telepon kakak gak diangkat, nomor adek juga gak pernah aktif, adek kenapa buat status kayak gini…?”
Tak lama kemudian muncul balasannya.
“Kak Adek minta maaf, kakak jangan marah yah. Subuh nanti adek mau dioperasi, doakan Adek yah kak supaya adek masih bisa melihat hari esok, supaya adek masih bisa bercanda ma kakak lagi, supaya adek masih bisa update status lagi di facebook ini. Tapi kalau adek mati, kakak jangan pernah lupain adek, kakak juga jangan biarkan facebook adek mati, kakak harus updatekan status adek setiap saat, kalau kakak kangen sama adek kakak boleh buka facebook adek, luv u kak Colin.”
“Adek jangan gitu.” Balasku.
Tidak ada balasan untuk komentku. Tidak ada tanda-tanda kehidupan lagi di facebook Alexandria Nicole. Tidak ada lagi semuanya. Sepi.
Tanpa terasa mataku meneteskan air mata. Mataku berkaca-kaca. Perlahan penglihatanku mulai kabur. Dadaku mulai terasa sesak. Perasaan sedih menyelimuti diriku. Pikiranku melayang jauh meninggalkan ragaku. Semuanya gelap dan hilang.
“Kriiiiing… kriiiiing… kriiiiing…” Suara hapeku berbunyi.
Aku terbangun dan melihat hapeku, ternyata itu nomor Nicole. Hatiku sangat gembira, ku angkat telepon darinya.
“Ini Colin ya, saya ibunya Nicole. Tadi malam Nicole bilang kalau dia ingin banget nelpon nak Colin tetapi dokter melarangnya karena dia akan di operasi subuh tadi. Dia berpesan ke ibu suruh memberitahukan nak Colin kalau dia sayang banget sama nak Colin, dia ingin nak Colin terus mengingatnya!” Kata ibunya Nicole.
“Apa yang terjadi dengan Nicole Bu, dia di mana sekarang, gimana keadaannya?” Tanyaku bertubi-tubi.
Tidak ada jawaban dari ibunya. Tapi aku tahu kalau ibunya sedang menangis. Dadaku seketika itu juga sesak dan air mataku tak dapat ku bendung lagi.
“Nicole udah gada lagi, dia udah pergi ke tempat yang jauh nak!” Jawab Ibu dengan tangisnya.
Hapeku terjatuh. Mataku menatap layar komputer yang ada di hadapanku. Ternyata komputerku semalam tidak mati dan masih tetap online. Di sana tampak profil facebook Alexandria Nicole, sahabat sekaligus saudaraku. Senyumnya begitu indah menghiasi halaman profil facebooknya. Tetapi senyuman itu hanya tinggal senyuman. Tidak akan ada lagi status, tidak akan ada lagi koment, dan tidak akan ada lagi chatting. Yang tersisa hanya sebuah pesan darinya.
“Kak kalau besok aku mati, updatekan statusku yah, katakan pada semua kalau aku bahagia punya kakak yang perhatian dan sayang sama aku, selamat tinggal dunia, selamat tinggal kakakku tersayang!”'

Kiamat 2012

Pada saat drama ini dimulai, terlihat tiga orang anak sedang berjalan bersama-sama. Mereka mencari tempat untuk beristirahat setelah pulang mengamen. Kemudian mereka melihat sebatang pohon yang rindang di pinggir jalan, lalu mereka pergi ke pohon itu dan duduk santai, bernyanyi, bercerita, beristirahat, dan tertawa terbahak-bahak di bawah pohon yang rindang itu. Ketiga anak itu adalah Lanco, Semaput, dan Kropit.
Mereka asyik bernyanyi dan bermain musik, Lanco memetik gitar kesayangannya, Semaput bernyanyi, dan Kropit memukul sebuah gendang miliknya yang terbuat dari ember bekas.
Lanco berhenti memetik gitarnya, ia mengeluh karena cuaca belakangan ini terasa sangat panas dan tidak seperti dulu lagi. Pohon-pohon rindang telah berubah menjadi bangunan-bangunan besar pencakar langit. Sambil mengeluh ia kembali memetik gitarnya. Kedua sahabatnya mendengarkan keluhan Lanco, mereka kemudian menanggapi keluhan Lanco dengan mengatakan kalau itu adalah akibat dari perbuatan orang yang tidak bertanggung-jawab, yang menebang pohon sembarangan.
Sementara itu, Semaput mulai bernyanyi, ia mengungkapkan semua yang ada dalam hatinya tentang keadaan alam melalui lagu yang dinyanyikannya. Kedua sahabatnya terharu mendengar nanyian Semaput. Hati mereka tersentuh oleh lagu yang dinyanyikan Semaput.
Saat mereka asyik dengan kegiatan bermusiknya tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara yang menggelegar. Semaput bertanya pada kedua sahabatnya suara apa itu, dengan polosnya kropit menjawab kalau itu suara kentut Lanco. Lanco balas menuduh kalau itu suara kentut Semaput, Semaput pun balas menuduh Kropitlah yang memiliki suara kentut “sedahsyat” itu. Mereka saling tuduh dan terus menuduh seperti mereka tak pernah punya “kentut”. Lanco mulai emosi karena ia tidak merasa kentut, ia mengambil gitarnya dan membantingnya. Melihat hal itu Semaput dan Kropit hanya bisa diam saja, mereka tahu kalau Lanco benar-benar marah. Lanco kesal dengan sikap kedua sahabatnya, ia merasa tersinggung karena ia dituduh kentut oleh kedua sahabatnya.
Saat suasana memanas karena kemarahan Lanco, suara itu kembali terdengar untuk kedua kalinya dan membuat mereka semua terdiam. Mereka melihat ke sekeliling, Kropit mulai bicara dan mengatakan kalau itu bukan suara kentut. Rasa takut menghampiri ketiganya, timbul rasa khawatir dalam benak ketiganya. Mereka khawatir kalau ternyata ada teroris dan itu adalah suara bom yang dibuatnya. Mereka tidak melihat apa-apa, yang ada hanyalah sebatang pohon yang menaungi mereka. Dugaan mereka tidak terbukti. Mereka bertiga terus mencari tahu tentang asal-usul suara itu. Mereka semakin penasaran dengan asal suara itu. Suara itu berhasil menimbulkan kebingungan dan kepanikan bagi ketiganya.
Ditengah kebingungan dan kepanikan itu, Kropit mengeluarkan sebuah buku dari sakunya kemudian membukanya. Setelah melihat isi buku itu, ketiganya mulai berpikir apakah itu tanda-tanda bahwa dunia akan kiamat. Apakah itu semacam alarm. Mereka mulai resah dan panik, mereka tidak tahu harus berbuat apa kalau kiamat betul-betul terjadi. Mengingat bencana alam yang sering terjadi belakangan ini.
Mereka takut kalau cita-cita dan impian mereka tidak sempat terwujud. Lanco sangat ingin menjadi gitaris handal, begitu juga dengan Semaput yang ingin menjadi vokalis terkenal, dan tidak ketinggalan Kropit yang juga ingin dikenal dunia karena kehebatannya bermain gendang.
Mereka juga takut kalau tidak ada tempat untuk bersembunyi seandainya kiamat betul-betul terjadi. Lanco takut kalau kiamat itu berupa gempa, Semaput takut kalau kiamat itu berupa hujan meteor, Kropit takut kalau kiamat itu berupa banjir atau tsunami, karena ia tidak bisa berenang.
Mereka sepakat mengatur rencana untuk menyelamatkan diri apabila kiamat betul-betul terjadi. Lanco ingin membuat bangunan yang tahan terhadap gempa. Semaput ingin membuat bangunan yang mampu menahan hujan meteor, sedangkan Kropit ingin membuat kapal yang besar, lebih besar dan lebih kuat dari Titanic.
Mereka terlalu asyik berpikir, mereka tidak memperhatikan keadaan sekitar. Hari mulai gerimis, angin mulai bertiup kencang tetapi mereka masih tetap tinggal di bawah pohon itu. Mereka terus berpikir dan membahas masalah kiamat 2012 sampai tiba-tiba cahaya terang dari langit menyinari mereka dan akhirnya semuanya gelap dan tak ada suara apa-apa lagi, semuanya hening, tidak ada suara petikan gitar Lanco, suara Semaput, dan bunyi gendang Kropit. Petir telah menyambar ketiganya. Kiamat.



Kiamat 2012
Panggung menggambarkan sebuah daerah yang sangat gersang, sampah berserakan dimana-mana, di daerah tersebut hanya terdapat sebatang pohon yang rindang yang tumbuh di pinggir jalan dan sebuah rambu-rambu bertuliskan huruf S. Di bawah pohon tersebut terdapat sebuah tempat duduk untuk bersantai.
Saat drama ini dimulai suasana tampak sepi, kemudian dari kejauhan tedengar suara musik dan orang bernyanyi, suara itu semakin dekat dan semakin dekat sampai akhirnya muncul tiga orang anak, yang satu memegang gitar (Lanco), yang satu bertepuk tangan sambil menyanyi (Semaput), dan yang satunya lagi memukul-mukul ember bekas sebagai gendang (Kropit).


Mereka menyanyikan lagu Mars Slankers.
Di sini tempat cari senang
Salah tempat kalo kau cari uang
Di sini orang-orang penuh kreativitas
Tempat orang-orang yang terbaik

Di sini bukan anak-anak malas
Tempatnya para pekerja keras
Di sini bukan anak-anak manja
Sedikit kerja…banyak mintanya

Kerja…kerja…ayo kita kerja…

Semaput:
Ke…ke…kerja…kerja…kerja…ayo kita kerja
(Sambil tepuk tangan)
Lanco & Kropit:
STOP!!!
(Berkata serentak dan berhenti memainkan alat musik mereka)
Semaput:
 Ke…ke…kenapa STOP coy?
(Dahinya mengkerut)

Kropit:
Kau tidak lihat tanda itu?
(Menunjuk ke arah rambu-rambu yang dilambangkan dengan huruf S)
Semaput:
Ta…ta…tanda apa itu? Bu…bu…bukankah itu inisial namaku, S dari kata Semaput coy?
(Menatap kedua sahabatnya)
Lanco:
Iya S dari kata Semaput, dari kata sontoloyo pula!
(Membasuh keringat di keningnya)
Kalian tidak merasa panaskah?
Kropit:
Kau nggak liat keringatku dari tadi bercucurankah bro?
(Melepas bajunya dan berkipas menggunakan bajunya)
Semaput:
Pa…pa…panas gini enaknya minum es!
(Berlagak seolah ada yang diminumnya)
Kropit:
Kau mau minum es Sem?
Itu ada es disitu!
(Menunjuk ke arah rambu-rambu yang ada huruf S-nya)
Lanco:
Kalian tahu tidak sich kenapa bisa panas gini?
(Terus mengelap keringatnya)
Semaput:
I…i…ini pasti karena Kropit lupa tutup pintu neraka waktu dia keluar tadi!

Kropit:
Kau kira aku Luciferkah?
(Sambil mengorek telinganya)
Semaput:
I…i…itu bukannya makanan yang ada coklatnya coy?
Kropit:
Itu wafer goblok!
Lanco:
Aaaiiiissssh…. Kalian ini, kapan negara ini bisa sukses kalau kalian nggak pernah serius!
(Sedikit kesal dengan kedua sahabatnya)
Semaput:
Se…se…serius sudah bubar kawan, i…i…itu Grup Band asal Bandung!
Lanco:
DIAM…
(Membentak sahabatnya)
Kropit:
Sabar kawan!
(Menenangkan Lanco)
Kami tadi hanya bercanda.
Semaput:
I…i…iya kawan.
(Menepuk pundak Lanco)
Lanco:
Kalian lihat tidak, sekarang daerah ini sudah sangat gersang.
Tidak ada pohon yang hijau dan suara kicauan burung,
Tidak ada keindahan dan kesejukan,
Pohon yang tinggi berubah menjadi gedung pencakar langit,
Sementara kicauan burung berubah menjadi deru mesin kendaraan.
Semuanya berubah dan terus berubah menjadi tak karuan.
Semaput:
Ssssttt….
(Menyikut Kropit)
Kropit:
Kau benar Co!
Semua ini menurutku adalah ulah oknum tertentu yang hanya ingin mengejar keuntungan semata.
Mereka tidak mempedulikan dampak yang terjadi seperti sekarang ini.
Apakah mereka tidak pernah merenungkan semuanya?
(Bicara dengan lantangnya)
Semaput:
Be…be…betul itu kawan!
Kita mesti telanjang dan benar-benar bersih
Suci lahir dan di dalam batin
Tegaklah ke dalam sebelum bicara
Singkirkan debu yang masih melekat…
Singkirkan debu yang masih melekat
Anugerah dan bencana adalah kehendakNya
Kita mesti tabah menjalani
Hanya cambuk kecil biar kita sadar
Adalah Dia di atas segalanya…
Adalah Dia di atas segalanya..
Anak menjerit-jerit, asap panas membakar
Lahar dan badai menyapu bersih
Ini bukan hukuman, hanya satu isyarat
Bahwa kita mesti banyak berbenah…

Memang bila kita kaji lebih jauh
Dalam kekalutan, masih banyak tangan
Yang tega berbuat nista… oh
Tuhan pasti telah memperhitungkan
Amal dan dosa yang telah kita perbuat
Kemanakah lagi kita kan sembunyi
Hanya kepadaNya kita kembali
Tak ada yang bakal bisa menjawab
Mari, hanya tunduk sujud padaNya
Kita mesti berjuang memerangi diri
Becermin dan banyaklah becermin
Tuhan ada di sini di dalam jiwa ini
Berusahalah agar dia tersenyum… oh
Berubahlah agar Dia tersenyum…
(Diiringi oleh petikan gitar Lanco dan gendang Kropit)
……….Hening sejenak……….
Kropit:
Kenapa kau Co?
Kau tampak sedih?
Lanco:
Aku terharu dengar lagu barusan!
Aku jadi teringat dengan bencana yang sering terjadi belakangan ini.
(Merenung)
Semaput :
Ka…ka..kau benar Co!
Belakangan ini memang sering terjadi bencana,
Mu…mu…mulai dari gempa hingga tsunami dan lain-lain.
(Menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal)
Kropit:
Sudahlah…
Mungkin itu teguran dari Tuhan…
(Mengorek telinganya)
Lanco:
Aku hanya berpikir seandainya aku di posisi mereka yang menjadi korban,
Apa yang akan aku lakukan.
(Merenung)
……….terdengar suara menggelegar……….
Semaput:
Kalian dengar suara tadi?
(Menaruh tangannya di telinga agar pendengarannya lebih jelas)
Lanco & Kropit:
Dengar…
(Menjawab serentak)
Semaput:
Suara apa ya kira-kira?
(Bertanya pada kedua sahabatnya)
Kropit:
Paling suara kentut Lanco!
(Menjawab dengan polos)
Lanco:
Enak saja kau main tuduh!
(Sedikit kesal)
Semaput itu yang punya kentut paling dahsyat!
Semaput:
E…e…enak saja kau…
Aku pernah dengar Kropit yang punya kentut sekeras itu…
Kropit:
Kau ngaku sajalah Co!
(Nyengir ke arah Lanco)
Semaput:
I…i…iya ngaku saja Co kalau kau yang kentut!
Ka…ka…kami dua gak akan suruh kau pergi kok!
(Mendukung Kropit)

LANCO MENGAMBIL GITARNYA DAN MEMBANTINGNYA
(suara gitar yang dibanting)
Lanco:
Kalian kira saya tukang kentutkah?
Kalian kira saya orang yang suka lempar batu sembunyi tangan?
Tanpa kalian suruh saya pergi saya akan pergi kalau kalian tidak suka!
(Bangun dari tempat duduknya dan berjalan sambil menunjuk ke arah sahabatnya)
……….Hening sejenak……….



……….terdengar suara menggelegar untuk kedua kalinya……….
Kropit:
Tunggu kawan…
(Menghentikan kepergian Lanco)
Kau dengar suara tadi kembali terdengar?
Saya sekarang yakin kalau suara itu bukan kentut kau kawan!
Lanco:
Terus itu suara apa?
(Menghentikan langkah kakinya)
Semaput:
BOM…
Itu suara BOM…
Kropit:
Jangan-jangan…!
(Melihat-lihat ke sekeliling)
Lanco:
Jangan-jangan apa kawan?
Semaput:
Te…te…te…
(Gemetaran)
Kropit:
Telur maksud kau?
Semaput:
Bu…bu…bukan telur kawan…
Ta…ta…tapi teroris kawan!
i…itu BOM teroris kawan!
Lanco:
Tidak mungkin…
Kalau benar itu suara BOM teroris kita harus mencari teroris itu!
(Berputar-putar mencari sesuatu)
Kropit:
Tidak ada siapa-siapa di sini!
(Duduk di bawah pohon)
Semaput:
Ka…ka…kalau begitu itu suara apa?
 (Mengeluarkan sebuah buku usang dari sakunya)
Lanco:
Buku apa yang kau baca?
Semaput:
Bu…bu…buku porno… ups!!!
(Menutup mulutnya)
Lanco & Kropit:
Buku porno???
(Serentak bertanya)
Semaput:
I…i…iya… buku porno…
Kropit:
Kau gila Maput….
Lanco:
Iya… kau betul-betul gila!!!
Kau bisa dituntut karena melanggar undang-undang pornografi!
(Menggeleng-gelengkan kepala)
Semaput:
Sa…sa…sabar kawan, ja…ja…jangan salah paham dulu, po…po…porno itu tidak sejorok pikiran kalian, porno itu Pikiran ORang Normal.
 Ja…ja…jadi buku yang saya baca adalah buku pikiran orang normal…
(Terus membuka halaman bukunya mencari sesuatu)
Lanco:
Apa yang kau cari dalam buku itu?
(Bertanya pada Semaput)
Semaput:
Ka…ka…kawan! Lihat!
(Memanggil kedua sahabatnya)
Lanco & Kropit:
(Menghampiri Semaput dan melihat buku di tangan Semaput)
……….hening……….
(SETELAH MEMBACA BUKU ITU KETIGANYA TAMPAK PANIK)
Lanco:
(Pergi ke balik pohon dan membuka resleting celananya)
Semaput:
Hei… Hei… Hei… apa yang kau lakukan?
Lanco:
Mau buang airlah, kau kira aku mau apa emangnya?
Kropit:
Kau tidak malukah?
Lanco:
Malu kenapa?


Semaput:
Ba…ba…banyak penonton tahu!
(Menunjuk ke arah penonton dan memasukan bukunya ke dalam saku)
Lanco:
(Menutup kembali resletingnya dan tidak jadi buang air)
Kropit:
Panik sih panik, tapi jangan langsung mau buang air sembarang kawan!
(Berhenti bicara)
Lanco:
Apa yang harus kita lakukan kalau kita panik?
(Mondar-mandir)
Semaput:
Be…be…berpikir kawan!
……….hening……….

Kropit:
Kacau…
(Berteriak)
Semaput:
Ke…ke…kenapa kau kawan?
 Kropit:
Cita-citaku…
Lanco:
Ada apa dengan cita-citamu?


Kropit:
Aku takut kalau cita-citaku belum terwujud tapi dunia telah berakhir!
Padahal aku ingin sekali terkenal sebagai pemain gendang yang hebat!
Semaput:
Ka…ka…kau benar Chrop!
A…a…aku juga berpikir begitu!
A…a…aku ingin menjadi vokalis yang terkenal di seluruh dunia!
A…a…aku ingin menjadi seperti Michael Jackson!
Lanco:
Aku ingin menjadi gitaris handal seperti Jimi Hendrix!
Kropit:
Apa yang harus kita lakukan kawan?
Bagaimana kalau tidak ada tempat untuk kita berlindung?
Kemana kita harus mengungsi?
(Terlihat semakin panik)
Semaput:
Te…te…tergantung!
Lanco:
Tergantung apa Co?
Semaput:
Te…te…tergantung kiamat itu seperti apa!
Lanco:
Kalau berupa gempa, apa yang harus kita lakukan?
Semaput:
Ki…ki…kita buat bangunan yang tahan gempa!

Kropit:
Kalau berupa tsunami atau banjir?
Semaput:
Ki…ki…kita naik ke tempat yang lebih tinggi!
Tapi…
(Berhenti bicara)
Lanco & Kropit:
Tapi apa?
(Bertanya serentak)
Semaput:
Tapi kalau kiamat itu seperti hujan meteor di film Armagedon gimana?
Lanco:
Kalau begitu kita harus mulai membangun dari sekarang!
Kropit:
Membangun apa?
Lanco:
Membangun bangunan yang tahan gempa dan hujan meteor, membangun kapal yang besar dan kuat!
Semaput:
Ka…ka…kau benar!
Ki…ki…kita harus mulai dari sekarang!
Ki…ki…kita mulai dari hal kecil!
Kropit:
Seperti?
Lanco:
Membangun diri sendiri menjadi manusia yang berguna!

Semaput:
Ki…ki…kita bangun cita-cita kita!
Se…se…setelah itu kita bangun negara kita!
Kropit:
Caranya?
Lanco:
Dengan belajar dan belajar!
Semaput:
Ki…ki…kita kejar ilmu sampai ke negeri cina!
Kropit:
Cuma itu?
Lanco:
Tidak!
Semaput:
Ki…ki…kita jangan mudah menyerah!
Kropit:
(Mengangguk-anggukan kepalanya)
Lanco:
Kita harus selalu ingat Tuhan!
Kropit:
Dan?
(Tiba-tiba cahaya terang dari langit menyinari mereka dan akhirnya semuanya gelap dan tak ada suara apa-apa lagi, semuanya hening, tidak ada suara petikan gitar Lanco, suara Semaput, dan bunyi gendang Kropit. Petir telah menyambar ketiganya)
Kiamat.

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda