KATA-KATA ONOMATOPE DAN POSNESTEM DALAM BAHASA DAYAK BENUAQ DI KUTAI BARAT
Posted by Unknown at 10.201. Latar Belakang
Dalam bahasa indonesia ada sejumlah kata yang terbentuk sebagai hasil peniruan bunyi. Maksudnya, nama-nama benda atau hal tersebut dibentuk berdasarkan bunyi yang dihasilkan dari benda tersebut atau suara yang ditimbulkan oleh benda tersebut. Misalnya, cecak karena bunyinya “cak, cak, cak-,”. Selain itu, banyak pula dibentuk kata kerja atau nama perbuatan dari tiruan bunyi itu. Misalnya, anjing biasa dikatakan menggonggong, ayam berkotek, ular mendesis, dan lain-lain. Kata-kata tersebut disebut juga kata peniru bunyi atau onomatope (Chaer, 1995: 44-45).
Dalam penelitian ini penulis akan membahas kata-kata onomatope dan fonestem dalam bahasa Dayak Benuaq di Kutai Barat. Kata-kata onomatope adalah kata-kata yang diciptakan berdasarakan tiruan bunyi alam sekitar atau bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh benda-benda tertentu. Kata-kata onomatope tidak sama persis dengan bunyi yang ditirukannya tetapi menurut pandangan pemakai bahasa kata-kata itu merupakan tiruan bunyi sebagaimana yang dimaksudkan (Subroto, 1981:16). Beberapa contoh kata-kata onomatope dalam bahasa Indonesia adalah cecak, tokek, aum, embik, dengkur, gelegar, dan lain-lain (Praptomo, 2007: 19).
Kata-kata fonestem adalah kata-kata yang mengandung gugus (cluster) konsonan tertentu dan vokal tertentu – atau alofonnya – yang mengasosiasikan terhadap nilai semantik tertentu. Nilai semantik itu berkaitan dengan besar kecilnya atau berat ringannya suatu benda, luas sempitnya suatu volume, kasar jernihnya suatu bunyi, atau jauh dekatnya sesuatu dilihat dari segi si pembicara. Oleh karena itu, kata-kata fonestem disebut juga kata-kata yang bernilai emotif-ekspresif. Beberapa contoh kata-kata fonestem dalam bahasa Jawa misalnya blas, blus, dan bles yang menyatakan “gerakan yang terjadi secara cepat, tiba-tiba, dan lebih mantaf” (Subroto, 1981:16-18).
Kata-kata onomatope dan fonestem dalam bahasa Dayak Benuaq di Kutai Barat dipilih penulis menjadi topik pembahasan karena beberapa alasan. Pertama, penulis menemukan banyak kata-kata onomatope dan fonestem dalam Dayak Benuaq di Kutai Barat. Misalnya, pak, pek, paq, pik, pap adalah contoh onomatope yang merupakan “tiruan bunyi benda-benda padat yang terkena pukulan”. Ngeng, nges, nyus, nyes adalah contoh fonestem dalam bahasa Dayak Benuaq yang “menyatakan gerakan yang terjadi dengan cepat atau dengan tiba-tiba”. Kedua, terkait dengan penemuan diatas, kata-kata onomatope dan fonestem merupakan fenomena kebahasaan yang menarik untuk diteliti lebih lanjut. Ketiga, kata-kata onomatope dan fonestem dalam bahasa Dayak Benuaq di Kutai Barat menarik untuk dipublikasikan.
2. Rumusan Masalah
Dalam penelitian ini ada beberapa masalah yang akan dibahas, yaitu:
1.2.1 Apa saja kata-kata onomatope dan fonestem dalam bahasa Dayak Benuaq di Kutai Barat?
1.2.2 Bagaimanakah proses penciptaan kata-kata onomatope dan fonestem dalam bahasa Dayak Benuaq di Kutai Barat?
3. Tujuan Penelitian
Penelitian ini memiliki tujuan sebagai berikut.
1.3.1 Memaparkan kata-kata onomatope dalam bahasa Dayak Benuaq di Kutai Barat.
1.3.2 Mendeskripsikan proses penciptaan kata-kata onomatope dalam bahasa Dayak Benuaq di Kutai Barat.
4. Manfaat Hasil Penelitian
Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memaparkan kata-kata onomatope dan fonestem dalam bahasa Dayak Benuaq di Kutai Barat. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat mendeskripsikan proses penciptaan kata-kata onomatope dan fonestem dalam bahasa Dayak Benuaq di Kutai Barat.
Secara praktis, penelitian ini diharapkan menghasilkan manfaat khususnya bagi masyarakat Dayak Benuaq, dan menambah pengetahuan tentang bahasa daerah kepada seluruh masyarakat. Penelitian ini juga diharapkan mampu memberi informasi kepada peneliti selanjutnya.
5. Tinjauan Pustaka
Dalam majalah yang berjudul Bahasa dan Sastra (memuat masalah Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah) yang diterbitkan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, halaman 16-31, D. Edi Subroto membahas tentang “Kata-kata Onomatope dan Ponestem dalam Bahasa Jawa”. Dalam pembahasaannya, D. Edi Subroto memberikan definisi onomatope dan ponestem serta memberikan contoh kata-kata onomatope dan ponestem hanya yang terdapat dalam bahasa Jawa. Sedangkan dalam penelitian ini fokus penulis adalah onomatope dan fonestem dalam bahasa Dayak Benuaq di Kutai Barat.
Abdul Chaer dalam Pengantar Semantik Bahasa Indonesia membahas Peniruan Bunyi. Dalam pembahasannya, Chaer memberikan contoh onomatope dalam bahasa Indonesia yang sering muncul dalam percakapan, misalnya:
- Kudengar bunyi ketukan di pintu “tok, tok, tok”, dan sebelum aku bangkit, dia sudah muncul di pintu.
- “Klik” terdengar bunyi anak kunci diputar orang.
- “Bret, bret” dirobeknya kain itu menjaditiga lembar.
Dalam hal ini, pembahasan Chaer jelas berbeda dengan apa yang penulis lakukan. Fokus penulis adalah onomatope dan fonestem dalam bahasa Dayak Benuaq.
Adizjayaton Yusuf, dalam blognya Buku Catatan juga membahas tentang kata-kata onomatope. Akan tetapi dalam pembahasannya ia tidak membahas fonestem. Pembahasan onomatope oleh Adizjayaton Yusuf hanya sebatas mendefinisikannya secara etimologi serta memberikan contoh dalam bahasa indonesia.
Onomatope (dari Bahasa Yunani ονοματοποιία) adalah kata atau sekelompok kata yang menirukan bunyi-bunyi dari sumber yang digambarkannya. Konsep ini berupa sintesis dari kata Yunani όνομα (onoma = nama) dan ποιέω (poieō, = "saya buat" atau "saya lakukan") sehingga artinya adalah "pembuatan nama" atau "menamai sebagaimana bunyinya". Bunyi-bunyi ini mecakup antara lain suara hewan, suara-suara lain, tetapi juga suara-suaramanusia yang bukan merupakan kata, seperti suara orang tertawa.
Beberapa contoh onomatope:
§ Suara hewan: menggonggong, mendesis, mengeong dsb.
§ Suara lain: tercebur
§ Suara manusia: ha-ha-ha
Pembahasan ini jauh berbeda dengan apa yang penulis lakukan. Peneltian penulis terfokus pada onomatope dan fonestem dalam bahasa Dayak Benuaq.
Praptomo Baryadi dalam bukunya Teori Ikon Bahasa: Salah Satu Pintu Masuk ke Dunia Semiotika membahas kajian tentang teori ikon bahasa. Buku tersebut menjadi acuan penulis untuk mengkaji jenis tanda lainnya, yaitu onomatope dan fonestem dalam Bahasa Dayak Benuaq.
Marcel Danesi dalam Pesan, Tanda, dan Makna membahas tentang ikonisitas. Dalam pembahasannya, Danesi mengatakan bahwa:
“... foto, potret, peta, angka Romawi seperti I, II, dan III adalah wujud ikonis yang dirancang atau diciptakan agar mirip dengan sumber acuannya secara visual. Kata-kata onomatopeia seperti drip, plop, bang, scretch, adalah ikon vokal yang menstimulasikan bunyi yang menurut persepsi dihasilkan benda, tindakan atau gerakan tertentu...”
Pembahasan Danesi berbeda dengan apa yang penulis teliti. Karena Danesi membahas onomatope secara umum dan sepintas sedangkan penulis membahas onomatope dan fonestem secara khusus, dalam bahasa Dayak Benuaq.
1. Kerangka Teori
Teori merupakan unsur sentral yang selalu memberi pencerahan terhadap upaya perumusan masalah termasuk jawaban terhadap masalah yang diteliti (Mahsun, 2007: 17-18). Oleh karena itu, dalam penelitian ini diperlukan suatu teori yang relevan. Adapun salah satu teori yang relevan dengan permasalahan di atas adalah teori ikon.
Ikon adalah tanda yang penandanya memiliki hubungan kemiripan dengan sifat khas realitas yang diacunya. Pengertian realitas yang terkandung dalam ikon tidak sama dengan pengertian realitas yang dikemukakan oleh Chomsky. Pengertian realitas yang dikemukakan Chomsky semata-mata mengacu pada konsep dalam pikiran yang tidak ada kaitannya dengan dunia nyata yang berada diluar pikiran (Praptomo, 2007: 2-17).
Ikon adalah tanda yang mewakili sumber acuan melalui sebuah bentuk replikasi, simulasi, imitasi, atau persamaan. Simbolisme bunyi adalah salah satu contoh ikonisitas dalam bahasa, begitu pula dengan onomatopeia. Ikonisitas adalah upaya untuk mensimulasikan sifat inderawi yang dipersepsikan dalam pelbagai benda (Danesi, 2010: 38).
Ferdinand de Saussure dan Charles S. Peirce adalah pendiri teori praktik semiotika kontemporer. Gagasan mereka membentuk kerangka dasar untuk mendeskripsikan dan mengklasifikasikan tanda (Danesi, 2010: 34).
Saussure mengakui bahwa ada beberapa tanda yang direka sedemikian rupa sehingga penandanya meniru sifat inderawi atau sesuatu yang dapat dipersepsikan dari petanda. Kata-kata onomatopeia seperti drip, plop, dan whack memang mencerminkan bunyi fisik yang sesungguhnya tetapi Saussure mengatakan ini merupakan pengecualian, bukan aturan. Sifat onomatopeia yang mudah berubah dalam pelbagai bahasa menunjukan bahwa onomatopeia adalah fenomena manasuka. Misalnya, kata untuk mengacu pada kokok ayam jantan adalah cock-a-doodle-do dalam bahasa Inggris, chicchirichi (diucapkan “kikkiriki”) dalam bahasa Italia, dan lain-lain (Danesi, 2010: 35).
Sementara Saussure memandang tanda sebagai struktur yang dibuat secara manasuka. Charles Peirce berargumen bahwa fenomenon seperti simbolisme bunyi pada kenyataanya mengungkapkan sebuah kecenderungan tak sadar mendasar dalam penciptaan tanda yang cenderung “dimotivasi” oleh suatu bentuk simulasi. Peirce menyebut tanda sebagai representamen dan konsep, benda, gagasan, dan seterusnya, yang diacunya sebagai objek. Makna yang kita peroleh dari sebuah tanda diberi istilah interpretan. Peirce memandang tiga dimensi tersebut sebagai sebuah struktur tradik bukan biner, karena tiga dimensi ini selalu hadir dalam signifikasi (Danesi, 2010: 37).1. Metode Penelitian
1.6.1 Metode dan Teknik Pengumpulan Data
Untuk memecahkan masalah yang telah dirumuskan di atas, diperlukan data yang cukup mengenai bahasa Dayak Benuaq. Oleh karena itu, diperlukan pula metode dan teknik-teknik yang sesuai pada tahap pengumpulan data (Mahsun, 2007: 16). Untuk itu digunakan metode cakap dengan teknik pancing kepada penutur bahasa Dayak Benuaq.
1.6.2 Metode dan Teknik Analisis Data
Untuk menganalisis data yang ada penulis akan menggunakan metode deskriptif analisis. Data yang penulis peroleh akan dijelaskan dengan cara mendeskripsikannya.
1.6.3 Metode Penyajian Hasil Analisis Data
Data yang ada akan diwujudkan secara deskriptif, yaitu dengan memaparkan apa saja onomatope dan ponestem dalam bahasa Dayak Benuaq. Selain itu, mendeskripsikan bagaimana proses penciptaan onomatope dan ponestem dalam bahasa Dayak Benuaq.
1.6.4 Sumber Data
Sumber data untuk penelitian ini berasal dari daerah-daerah yang masyarakatnya mayoritas menggunakan bahasa Dayak Benuaq sebagai bahasa daerahnya.
2. Sistematika Penyajian
Tugas akhir ini akan dibagi menjadi empat bab. Bab satu adalah pendahuluan, yang berfungsi sebagai pengantar. Bab ini akan dibagi menjadi delapan subbab dan menjelaskan latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat hasil penelitian, tinjauan pustaka, kerangka teori yang digunakan, metode penelitian, dan sistematika penyajian.
Bab dua memaparkan berbagai contoh kata-kata onomatope dan ponestem dalam bahasa Dayak Benuaq. Bab ini dimaksud untuk menyajikan contoh bagaimana kata-kata onomatope dan ponestem terdapat dalam bahasa Dayak Benuaq.
Bab tiga berfungsi mendeskripsikan proses penciptaan kata-kata onomatope dan ponestem dalam bahasa Dayak Benuaq. Bab ini bersifat deskriptif.
Bab empat atau bab terakhir adalah penutup. Bab ini akan berisi kesimpulan dan saran dari penelitian.DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 1995. “Pengantar Semantik Bahasa Indonesia”. Jakarta: Rineka Citra.
Danesi, Marcel. 2010. “Pesan, Tanda, dan Makna”. Yogyakarta: Jalasutra
Mahsun. 2007. “Metode Penelitian Bahasa”. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Praptomo, Baryadi I. 2007. “Teori Ikon Bahasa: Salah Satu Pintu Masuk ke Dunia Semiotika”. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.
Subroto, D. Edi. 1981. “Kata-kata Onomatope dan Ponestem dalam Bahasa Jawa”. Dalam Majalah Bahasa dan Sastra. Tahun VII, Nomor 4. 1981. Halaman 16-31.
Yusuf, Adizjayaton. 2010. “Buku Catatan”, Stable URL: http://bukucatatan-part1.blogspot.com/2010/03/kata-kata-onomatope.html. Diunduh 27/05/2011, 14.00.
Labels: Bahasa
0 Comments:
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Subscribe to:
Posting Komentar (Atom)
Posting Komentar